Sunday, May 30, 2010

Mancing Gratis pada Perayaan HUT Majalengka

Dalam rangka HUT Majalengka yang ke 520 Bupati Majalengka H. Sutrisno yang dikenal gemar memancing pada hari sabtu kemarin (29/05) menggelar acara mancing gratis di bendungan Rentang, Jatitujuh. Acara mancing gratis yang disponsori oleh salah satu perusahaan rokok dan dimeriahkan dengan pentas organ tunggal itu berlangsung meriah. Masyarakat Majalengka dari beberapa penjuru tumplek blek memenuhi area bendungan Rentang dengan alat pancingnya masing-masing.

Konon menurut beberapa sumber dalam acara mancing gratis ini Bupati Majalengka menumpahkan tak kurang dari 2 ton ikan mas dan lele ke dalam bendungan tersebut dan disebar ke dalam empat jalur bendungan masing-masing lima kwintal untuk tiap bendungan. Untuk mempermudah para peserta mendapatkan tangkapan, bendungan itu sengaja oleh pihak panitia diperkecil arusnya dengan menutup beberapa saluran airnya. Bahkan karena melihat animo masyarakat yang begitu besar ingin mengikuti acara mancing gratis ini, Bupati Majalengka pun pada hari ini kabarnya menyebar 1 ton lagi ikan lele dan mas tersebut ke area bendungan. Jadi, bagi Anda warga Majalengka dan sekitarnya ingin ikut berpartisipasi tentunya masih ada kesempatan.

Bendungan Rentang yang memang sejak dulu merupakan salah satu objek wisata masyarakat sekitar pada hari itu benar-benar ramai dan dipadati pengunjung. Tapi meski acara yang diusung mengatas namakan perayaan HUT Majalengka yang sebenarnya jatuh pada tanggal 7 Juni nanti itu terdapat pemandangan janggal. Tidak hanya umbul-umbul dan bendera sponsor saja yang terpasang di sekitar arena pemancingan tapi bendera salah satu parpol juga bertebaran di sekitar arena. Sangat disayangkan memang, acara yang sedianya merupakan perayaan yang netral menjadi berbau muatan politis.

Tapi apapun itu, acara ini sungguh sangat bermanfaat terutama bagi warga Majalengka yang memang hobi memancing. Paling tidak, acara yang digelar seperti ini terasa lebih merakyat dan menyentuh kalangan bawah daripada perayaan-perayaan super mewah yang mengedepankan sisi seremonial belaka tanpa bisa dirasakan manfaatnya bagi rakyat kecil.

Wednesday, May 26, 2010

Pedati Gede Pekalangan yang Legendaris

Pedati Gede Pekalangan, itulah nama dari pedati yang bisa jadi merupakan pedati atau kereta terbesar hingga saat ini di Indonesia bahkan bisa jadi di dunia. Kereta ini memang punya ukuran yang tak wajar yakni dengan panjang total 8,6 meter, tinggi 3,5 meter dan lebar 2,6 meter. Kereta ini berjalan di atas enam roda ukuran besar dengan diameter 2 meter dengan panjang jari-jari roda sepanjang 90 cm dan dua roda kecil yang berdiameter 1,5 meter dengan panjang jari-jari roda 70 cm. Tidak hanya besarnya ukuran yang membuat pedati ini begitu istimewa tapi juga teknologi yang terdapat dalam kereta itu dinilai oleh banyak pengamat sebagai kereta yang melampaui teknologi zamannya. Teknologi itu bisa dilihat dari terdapatnya semacam as terbuat dari kayu bulat berdiameter 15 cm yang menghubungkan antar roda melalui poros yang ada di tiap-tiap roda tersebut dengan pelumas dari getah pohon damar di tiap pertemuan antara roda tersebut dengan poros agar disamping pertemuan antara as dan porosnya tetap lancar juga membuat as tidak cepat aus.



Satu hal lainnya yang mengundang decak kagum adalah sistem rangkaian dari Pedati Gede Pekalangan ini menggunakan sistem knock down layaknya kereta api hingga jika pada saat itu yang diangkut tak cukup hanya dengan menggunakan pedati ini maka digunakan pedati-pedati lainnya dengan cara mencangkolkan pedati tambahan itu dibelakangnya dan ditarik dengan tenaga kerbau bule yang diyakini memiliki tenaga di atas rata-rata kerbau biasa pada umumnya.

Berdasarkan catatan dan dipercaya oleh beberapa ahli dibuat pada tahun 1371 ketika Cirebon masih berbentuk katumenggungan dan dipimpin oleh Pangeran Cakrabuwana. Dan pedati ini masih tetap digunakan hingga jaman kesultanan Sunan Gunung Jati di abad ke-15. Salah satu peran penting pedati ini adalah ketika pembangunan Masjid Agung Sang Ciptarasa tahun 1480 sebagai alat angkut bangunan dan juga sebagai alat transfortasi ketika menginfasi Sakiawarman yang bersembunyi di desa Girinata (kini wilayah Palimanan). Sakiawarman merupakan adik kandung Prabu Purnawarman yang merupakan Kerajaan Tarumanegara di daerah Cisadane, Bogor, yang memberontak kepada kakaknya tapi karena gagal kemudian melarikan diri ke Desa Girinata. Karena Girinata waktu itu merupakan wilayah Kerajaan Indraprasta, maka Purnawarman meminta bantuan kepada Wiryabanyu, Raja Indraprasta untuk menumpas para pemberontak ini. Dan karena Kerajaan Indraprasta dan Kesultanan Cirebon waktu itu bersahabat dengan Kerajaan Tarumanegara maka Kesultanan Cirebon pun ikut mengirimkan pasukannya berikut dengan alat-alat logistiknya menggunakan pedati gede ini untuk kemudian ikut membantu kerajan tersebut menumpas para pemberontak yang bersembunyi di Girinata. Kontur tanah Desa Girinata yang becek dan berbukit-bukit membuat Pasukan Cirebon sangat terbantu dengan adanya pedati gede Pekalangan ini. Disamping itu, tak hanya sebagai alat angkut, postur badan pedati gede ini yang sangat besar dan kokoh pun bisa dijadikan sebagi benteng dikala pasukan musuh menyerang.

***



Gambar diambil dari blog ini

Tuesday, May 25, 2010

Kue Serabi Wa Caweng

Kue Surabi keju, jika Anda pernah menyambangi kota Bandung pasti ingat dengan satu jenis kue ini. Kue tradisional yang berasimilasi dengan budaya modern dan kemudian naik pangkat menjadi kue bagi kalangan hedonis yang di jual di mal-mal. Nikmat, gurih dan membuat air liur membuncah memang. Tapi tahukah Anda bahwa pada mulanya kue surabi atau yang di Kota Cirebon dikenal dengan sebutan kue serabi ini pada awalnya adalah salah satu makanan tradisional yang baik cara pengolahan maupun bahan-bahannya sangat tradisional.



Nah, pada kesempatan kali ini Portal Cirebon akan memperkenalkan salah satu kue serabi yang sangat tradisional tapi begitu gurih disantap terutama sebagai teman makan sate kambing. Di Desa Cidenok ada salah satu penjual kue ini yang sangat enak dan biasa mangkal tiap sore Rabu di depan Balai Desa Cidenok. Wa Caweng, begitulah sang penjual ini biasa disapa pelanggannya hanya berjualan pada sore Rabu hingga jam 9 malam saja, tapi jika Anda datang untuk mencicipi hasil racikannya di atas jam 7 malam Anda dipastikan harus ikut ngantri sebab pada jam-jam itu Serabi Wa Caweng ini akan diserbu pelanggannya.



Portal Cirebon sendiri tak tahu sejak kapan Wa Caweng ini berjualan kue serabi, yang jelas sejak pertama kali berjualan serabi beliau mengaku selalu menggunakan cara-cara tradisional untuk menjaga rasa kue serabi-nya tetap gurih dan tak tertandingi. Dan memang, ketika Portal Cirebon mengamati mulai dari bahan-bahan seperti tepung beras, parutan kelapa yang membuat gurih, dan bumbu lainnya semuanya menggunakan bahan-bahan yang sangat alami dan diracik secara manual seperti proses mengulen tepung yang hanya menggunakan tangan, memarut kelapa hingga proses memanggang kue yang menggunakan tungku tanah (tembikar) dan kayu bakar. Satu-satunya yang menggunakan alat modern mungkin hanya ketika proses menepung beras yang menggunakan alat tepung mesin. Hal ini bisa dimaklumi sebab tenaga tua Wa Caweng memang sudah tak lagi memungkinkan untuk menumbuk beras menjadi tepung dengan lesung dan alu.

Jadi, jika Anda pada hari Selasa kebetulan sedang berada di wilayah perbatasan antara Cirebon - Majalengka dan menyukai makanan tradisional tak ada salahnya kalau Anda mampir sebentar ke Desa Cidenok Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka ini untuk sekedar menikmati gurihnya kue serabi made in Wa Caweng ini. We recommended deh, heheheh...

Monday, May 24, 2010

14 Anggota TNI Ogah Bayar Tiket K.A

Penertiban penumpang Kereta Api Cirebon Express yang digelar Ditjen Perkeretaapian di Stasiun jatibarang, Indramayu kemarin menjaring sedikitnya 14 anggota TNI yang kedapatan tak memiliki tiket.



Para anggota TNI itu naik dari Stasiun Kejaksan, Cirebon dan saat tiba di Stasiun Jatibarang keempat belas anggota TNI bersama penumpang gelap lainnya diminta untuk turun dan digiring ke meja penyidik karena terbukti tak mengantongi tiket. Tapi lucunya, ketika sang penyidik meminta mereka untuk membayar tiket, dari keempat belas anggota TNI ini hanya 1 orang yang bersedia membayar tiket dan sisanya bak jagoan menolak membayar dan lebih memilih untuk berlari mengejar kereta api dan masuk kedalam kereta tersebut untuk melanjutkan perjalanannya.

Ulah tak terpuji yang dilakukan oleh oknum TNI ini memang patut disesalkan jika mengingat betapa beberapa kebijakan yang diterapkan sarana transportasi itu sangat memihak pada mereka yang diantaranya untuk anggota TNI hanya diwajibkan membayar separuh dari harga tiket normal dan sebagainya.

Jika begini, pertanyaannya adalah apakah mereka-mereka sang aparat negara yang berlagak bak koboi ini tak tahu dengan undang-undang tahun 2007 pasal 23 tentang perkereta apian yang isinya mengatakan bahwa untuk penumpang yang kedapatan tak memiliki tiket akan didenda dengan mengharuskan mereka membayar sebesar 2 kali lipat bagi penumpang jarak jauh dan 5 kali lipat untuk penumpang jarak dekat? Atau jangan-jangan mereka-mereka ini buta huruf?

***
Gambar diambil dari Media Indonesia

Sunday, May 23, 2010

Scoopy; Matic Terbaru dari Honda

PT Astra Honda Motor (AHM) pada tanggal 20 Mei Kemarin secara resmi mengeluarkan satu lagi skuter matic-nya ke pasaran. Skuter matik (skutik) bergaya retro ini oleh AHM di branding dengan nama Honda Scoopy.

Matik yang memiliki tiga varian warna, yaitu classic white, retro pink, dan vintage violet ini sendiri dibundel dengan mesin 110, dilengkapi kunci pengaman bermagnet otomatis, tuas pengunci rem, dan standar samping otomatis.







Menurut salah satu showroom motor terkenal di Cirebon ketika Portal Cirebon menanyakan kapan motor yang dibandrol dengan harga sekitar 13,5 juta ini hadir di pasaran Cirebon, yang bersangkutan menjawab bahwa kemungkinan baru setengah sampai sebulan lagi matic ini baru nongol untuk pasar Cirebon.

Jadi, bagi warga Cirebon yang ngebet dengan matic bergaya retro besutan Honda nongkrong di garasi rumah sepertinya harus bersabar d ulu.

Saturday, May 22, 2010

Daftar Perusahaan Rental Mobil di Cirebon

Bagi Anda yang sedang ada di kota Cirebon baik dalam rangka urusan bisnis maupun berwisata dan membutuhkan mobil rental di Cirebon untuk menunjang aktivitasnya maka di bawah ini Portal Cirebon sajikan beberapa Perusahaan Rental Mobil yang ada di kota Cirebon yang bisa Anda coba.

Tapi karena banyaknya jenis dan merk mobil yang direntalkan di sini, Portal Cirebon agak keculitan untuk memasang tarif sewa dari masing-masing rental tersebut. Untuk itu, bagi yang berminat dipersilahkan untuk menanyakan sendiri soal harganya pada showroom yang bersangkutan baik dengan cara datang ke tempatnya atau melalui telepon yang saya sediakan di bawah nani. Semoga bermanfaat....

ACE PATREES RENT A CAR
Jl Prakarsa Muda 77 CIREBON
Tlp. (0231) 236789

PT. ADIRA SARANA ARMADA
Jl. RA. Kartini 60 Hotel Kharisma International CIREBON
Tlp. (0231) 211918

PT. ARMADA FINANCE
Jl. Kalijaga Pegambiran Estate Bl B/1 RT 001/08 CIREBON
Tlp. (0231) 205939

ASAFFA RENT CAR
Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo 120 CIREBON
Tlp. (0231) 243479

PT. BOLQI PUTRA MAS
Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo 28 CIREBON
Tlp. (0231) 222791

PT. INDOJASA PRATAMA FINANCE
Jl. Sisingamangaraja 58 CIREBON
Tlp. (0231) 246924

ONE WAY RENT A CAR
Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo 91 CIREBON
Tlp. (0231) 206913

PT. OTO MULTIARTHA
Cirebon Grand Centre Bl D/12 CIREBON
Tlp. (0231) 245840

PT. TUNAS FINANCINDO SARANA
Jl. Karanggetas 64 Cherbon Grand Centre Bl A-14 CIREBON
Tlp. (0231) 230965

DITO RENT CAR
Permata Harjamukti J3/18 Cirebon
Phone: 082115672345
Website: rentalmobilcirebon.com

TRAC ASTRA RENT A CAR SERVICE POINT CIREBON
Jl. Cideng Raya No. 139 Cirebon, Jawa Barat - Indonesia
Telp. +62-231-226222 |
Hp. 085 724 666 234 / 0812 1971 7283
E. E-mail: - wahyu.dista@yahoo.com
- ci_3650@yahoo.com

VITTO Rent Car
Kompleks Majasem Permai B7 Cirebon
Phone: 0857.2015.2718
website:Vitto Rent Car Cirebon

Verda Rental
Jl. Flamboyan F1 No. 16 Griya Caraka
Telp. 085324008043/081322860960.
Website: VerdaRental

Ini saja dulu dan semoga bermanfaat untuk pembaca semua...

Makna Filosofis dari Topeng Cirebon

Kalau pada postingan yang dulu saya hanya menggambarkan Tari Topeng secara garis besarnya saja maka pada postingan kali ini saya akan mencoba membedah kedalaman isi dan makna filosofis dari tari topeng Cirebon ini sendiri terutama untuk tari topeng jenis topeng Panji Cirebon yang terkenal sangat paradoks itu. Kenapa dikatakan paradoks karena dalam tari topeng Panji Cirebon ini terkandung unsur-unsur yang saling bertentangan. Pertentangan-pertentangan itu dapat ditemukan dari beberapa hal yang diantaranya adalah topeng yang dikenakan dalam tari Topeng Panji yang berwarna putih polos tanpa hiasan sama sekali hingga tak dapat dibedakan apakah topeng ini menggambarkan sosok lak-laki atau sosok perempuan, gerak tari pun demikian, tak dapat dibedakan apakah itu gerak seorang yang mewakili sifat maskulinitas lelaki atau femininitas perempuan. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya begitu gemuruh. Kalau meminjam kata-katanya Prof. Drs. Jakob Sumardjo, gerak Tarian Panji seolah-olah "tidak menari". Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Satu hal lainnya yang membuat tari topeng panji Cirebon sedemikian paradoks adalah karena meski tari ini dihadirkan sebagai pembuka dari rangkaian tari topeng Cirebon lainnya yakni Pamindo-Rumyang dan Patih-Kelana tapi tari panji mengandung unsur dari keempat tari topeng itu sendiri. Ia hadir selaku pembuka sekaligus juga perwujudan dari klimaks pertunjukan tari topeng itu sendiri.

Selain itu, untuk menarikan tari topeng panji ini tidak sembarang orang bisa menarikannya. Itulah sebabnya ada pendapat yang mengatakan bahwa hakikinya pada zaman dulu tari topeng panji ini adalah jenis tarian para raja Jawa yang lebih dekat ke sisi spiritualnya daripada sebagai tontonan. Pendapat ini muncul karena Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja Majapahit yaitu Prabu Hayam Wuruk pernah menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja). Pun begitu dengan Raden Patah yang menari Topeng di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Inilah yang membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

Dan karena sakralnya tarian ini maka sebelum menarikan tari ini seorang penari harus terlebih dahulu melakukan laku puasa, berpantang pada sesuatu, dan semedi. Selain itu juga dipersembahkan segala macam sesajian yang mengandung unsur-unsur dualisme sekaligus pengesaan yang antara lain mewujud dalam berbagai sesajian yang sering dijumpai yang diantaranya bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

Rincian Sisi Filosofis Tari Topeng Cirebon
Secara garis besar makna filosofis dan spiritualitas tari topeng sendiri adalah semacam symbol penciptaan alam semesta yang berdasar pada sistem kepercayaan Hindu-Budha pengaruh dari kerajaan Majapahit yang menganut sistem emanasi yaitu adanya kesamaan antara sang pencipta (Dewa) dengan yang diciptakan (makhluk) karena menurut mereka ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.

Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan yang tunggal dan mutlak. Sementara alam semesta sendiri merupakan suatu keanekaragaman.yang di dalamnya tergabung perbedaan-perbedaan yang bertentangan tapi saling melengkapi dan bertaut satu sama lain seperti siang-malam, gelap-terang, laut-darat dan lain sebagainya. Nah, Sang Hyang Tunggal itulah yang kemudian merangkum segala perbedan ciptaan itu untuk menjadikannya sebagai keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak.

Dan Topeng Cirebon berusaha menggambarkan semua unsur dari Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya menjadi beberapa serpihan pasangan kembar yang saling bersisian tapi sekaligus saling melengkapi. Dari Tari Topeng Panji sebagai perwujudan Sang Hyang Wenang yang memiliki segala unsur penciptaan kemudian menyerpih dan berdiri sendiri seperti yang kemudian digambarkan dalam tarian berikutnya yaitu 'Pamindo-Rumyang', dan 'Patih-Klana'. Karena memiliki unsur segala penciptaan itulah maka Tari Topeng Panji pun sulit di bedakan apakah ia perempuan atau lelaki, jahat atau baik dan sebagainya. Kedoknya yang sama sekali bersih dari segala aksesoris pun dapat disimbolkan sebagai bentuk kekosongan. Berisi tapi kosong. Mengandung berbagai unsur tapi tak terdefinisikan. . Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu. Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni 'Pamindo-Rumyang', dan 'Patih-Klana'. Inilah sebabnya kedok 'Pamindo-Rumyang' berwarna cerah, sedangkan 'Patih-Klana' berwarna gelap (merah tua).

Gerak tari "Pamindo-Rumyang" halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak "dalam" (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak "luar". Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

__________________

Posting terkait:

Friday, May 21, 2010

Daftar Hotel di Cirebon Beserta Harga dan Alamatnya

Kalau dulu saya hanya sempat memposting tentang Daftar hotel yang ada di Cirebon tanpa list price dan daftar hotelnya hanya terbatas pada hotel berbintang di Cirebon saja, maka pada postingan ini sebagai pelengkap dari daftar hotel sebelumnya saya akan coba share nama hotel-hotel lainnya termasuk juga hotel-hotel kelas melati di Cirebon ini sekaligus juga daftar harga per malamnya.

Daftar hotel ini sendiri saya kelompokkan berdasarkan jalan di mana hotel tersebut berdiri untuk mempermudah pembaca menentukan sendiri hotel mana yang lebih dekat dengan aktivitas dan keperluannya ketika berada di Cirebon. Semoga berguna...


Hotel yang ada di Jl. Siliwangi, Cirebon adalah:

Sidodadi Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 72
Phone: (0231) 204821

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 400.000
Superior : 330.000
Standart : 270.000
Moderate : 200.000
Extra Bed : 85.000

Cordova Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 87-89
Phone: (0231) 204677

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Suite Room :220.000
Special Deluxe :170.000
Deluxe :160.000
Superior :150.000
Standart (3 bed) : 70.000
Standart (2 bed) :60.000
Economic :50.000

Slamet Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 95
Phone: (0231) 203296

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Class A :175.000
Class B :150.000
Class C :130.000
Economic :85.000
Extra bed :35.000

Family Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 66
Phone: (0231) 207935

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Class A :60.000
Class B :40.000

Aurora Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 62

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 155.000
VIP :165.000
Family : 200.000

Sare Sae Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 70
Phone: (0231) 206004

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 300.000
Superior : 250.000

Langen Sari Hotel
Beralamat di: Jl.Siliwangi No. 127
Phone: (0231) 201818

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Medium : 300.000 / 200.000
Superior : 400.000 / 250.000
Deluxe : 500.000 / 300.000
Extra Bed : 75.000

Prima Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 107
Phone: (0231) 208573

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 625.000
Superior : 675.000
Deluxe : 825.000
Suite : 1.100.000
Executive Suite : 1.375.000
Prima Suite : 1.500.000

Bentani Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 69
Phone: (0231) 203246

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Presidential Suite : 1.780.000
Executive Suite : 1.235.000
Suite : 885.000
Suoerior : 622.500
Executive : 565.000
Standard : 500.000
Extra Bed : 100.000

Priangan Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 108
Phone: (0231) 202929

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
VIP : 275.000
Suite B : 235.000
Suite A : 210.000
Deluxe : 190.000
Economy : 75.000

Aurora Hotel
Beralamat di: Jl. Siliwangi No. 62
Phone: (0231) 233143

Hotel yang ada di Jl. Tuparev, Cirebon

Srikandi Hotel
Beralamat di: Jl. Tuparev No. 46
Phone: (0231) 205901

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
3 BED : 160.000
2 BED : 120.000
EXTRA BED : 45.000

Patra Jasa Hotel
Beralamat di: Jl. Tuparev No. 11
Phone: (0231) 209400

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 495.000
Super Deluxe : 685.000
Suite Room : 1320.000
Extra Nattress : 125.000
Driver Room / Person : 75.000

Cirebon Indah Hotel
Beralamat di: Jl. Tuparev KM3
Phone: (0231) 210140

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Superior : 120.000
Executive : 110.000
Standard : 100.000
Ekonomi : 80.000

Apita Hotel
Beralamat di: Jl. Tuparev No. 323
Phone: (0231) 200748

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 499.125
Superior : 551.760
Deluxe : 469.770
Junior Suite : 773.190
Suite : 968.000
Family Suite : 1477.410

Omega Hotel
Beralamat di: Jl. Tuparev No. 20
Phone: (0231) 202585 / 204888

Hotel yang ada di Jl. Kalibaru, Cirebon

Baru Cirebon Hotel
Beralamat di: Jl. Kalibaru Selatan No. 3
Phone: (0231) 201728

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 250.000
Superior : 225.000
Moderate : 125.000
Extra Bed : 50.000

Niaga Hotel
Beralamat di: Jl. Kalibaru Selatan No. 49
Phone: (0231) 201731

Asia Hotel
Beralamat di: Jl. Kalibaru Selatan No. 15
Phone: (0231) 202 183

Pinus Hotel
Beralamat di: Jl. Kalibaru Selatan No. 49
Phone: (0231) 201731

Hotel yang ada di Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo

Santika Hotel
Beralamat di: Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 32
Phone: (0231) 200570

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Superior : 765.000
Deluxe : 945.000
Executive : 1.215.000
Deluxe Suite : 2.295.000
Presidential Suite : 4.215.000
Extra Bed : 230.000

Zamrud Hotel
Beralamat di: Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 64-A
Phone: (0231) 246201

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 520.000 / 285.000
Executive : 720.000 / 395.000
Suite Room : 980.000 / 550.000
Zamrud Suite : 1.600.000 / 895.000
Driver Room : 100.000 / 90.000
Extra Bed : 100.000 / 90.000

Bumi Asih Hotel
Beralamat di: Jl. Dr. Wahidin Sudirohusodo
Phone: (0231) 200667

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 190.000
Executive : 245.000
Suite : 325.000
Extra Bed : 85.000


Hotel yang ada di Jl. Kartini

Tryas Hotel
Beralamat di: Jl. Kartini No. 86
Phone: (0231) 232833

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Superior : 375.000 / 250.000
Deluxe : 500.000 / 300.000
Executive : 600.000 / 350.000
Junior Suite : 800.000 / 450.000

Cirebon Plaza Hotel
Beralamat di: Jl. Kartini No. 64
Phone: (0231) 202062

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Suite : 765.000
Deluxe : 585.000
Moderate : 365.000
Standard : 275.000
Extra Bed : 100.000
Driver : 85.000

Grage Hotel
Beralamat di: Jl. Kartini No. 77
Phone: (0231) 222999

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Platinum : 8000.000
Gold Room : 3000.000
Silver Room : 1150.000


Hotel yang ada di Jl. Rajawali, Cirebon

Padma Indah Hotel
Beralamat di: Jl. Rajawali Raya No. 329
Phone: (0231) 232818

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 180.000
Deluxe : 270.000
Extra Bed : 70.000

Wisma Rajawali
Beralamat di: Jl. Rajawali Barat III No. 5
Phone: (0231) 206326

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 1150.000
Standard Suite : 2140.000
Standard Family : 200.000
Extra Bed : 40.000

Hotel yang ada di Jl. Bridg. Dharsono, Cirebon

Imperial Hotel
Beralamat di: Jl. Bridg. Dharsono No. 14
Phone: (0231) 207750

Roslitasari Hotel
Beralamat di: Jl. Bridg. Dharsono No. 8
Phone: (0231) 204366

Hotel yang ada di Jl. Kusnan, Cirebon

Omega Hotel
Beralamat di: Jl. Kusnan No. 101
Phone: (0231) 209332

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 175.000
Deluxe A : 200.000
Deluxe B : 225.000
Superior : 250.000
Extra Bed : 85.000

Hotel yang ada di Jl. Veteran, Cirebon

Permata Hijau Hotel
Beralamat di: Jl. Veteran No. 32
Phone: (0231) 200215

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Family : 450.000
Superior : 300.000
Romantic : 275.000
Deluxe : 250.000
Standard : 200.000
Extra Bed : 65.000


Hotel yang ada di Jl. Karang Getas dan Karang Anyar

Asri Hotel
Beralamat di: Jl. Karang Getas No. 25-27
Phone: (0231) 210900

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
VIP Kolam : 349.000
VIP Taman : 299.000
Standard Kolam R : 259.000
Standard Taman : 239.000

Intan Hotel
Beralamat di: Jl. Karang Anyar No. 36
Phone: (0231) 244788

Hotel yang ada di Jl. Evakuasi

Sunyaragi Hotel
Beralamat di: Jl. Evakuasi No. 65
Phone: (0231) 484448

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Petite House : 425.000
Deluxe : 300.000
Moderate : 285.000
Standard : 275.000
Driver : 85.000
Extra Bed : 100.000

Hotel yang ada di Jl. Cangkring, Cirebon

Wisma Bahtera
Beralamat di: Jl. Cangkring I No. 7
Phone: (0231) 231920

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 250.000
Standard : 150.000

Hotel yang ada di Jl. Moh. Toha, Cirebon

Rahayu Hotel
Beralamat di: Jl. Moh Toha No. 45
Phone: (0231) 200322

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe : 120.000
Kamar AC + TV 3.org : 110.000
Kamar AC+TV 2.org : 100.000
Standard : 70.000
Ekonomi : 50.000

Hotel yang ada di Jl. Syarief Abdurakhman, Cirebon

Penta Hotel
Beralamat di: Jl. Syarief Abdurakhman No. 159
Phone: (0231) 203328

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 275.000
Deluxe : 320.000
Super Deluxe : 365.000
Junior Suite : 575.000
Exe Suite : 675.000
Extra Bed : 100.000



Cahaya Hotel
Beralamat di: Jl. Cemara D Teduh No. 45
Phone: (0231) 202848

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 75.000
Superior : 100.000
Deluxe : 150.000
Extra bed : 30.000

Amanah Hotel
Beralamat di: Samping terminal Harjamukti
Phone: (0231) 201352

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Lt. 2 + Kipas Angin : 90.000
Kipas angin + Tv : 110.000
Tv + AC : 140.000

Trijaya Hotel
Beralamat di: Jl. Aria Banga

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standart (2 bed) : 125.000
Deluxe : 150.000

Palapa Hotel
Beralamat di: Jl. Stasiun No. 8
Phone: (0231) 202380

Melati Hotel
Beralamat di: Jl. Pekalipan No. 62
Phone: (0231) 202954

Grinhil Pasindangan
Beralamat di: Jl. Sunan Gunung Djati No. 89
Phone: (0231) 222 489

Hotel yang ada di wilayah Kuningan

Tirta Sanita Hotel
Beralamat di: Jl. Raya Panawuan No. 98 Cilimus, Kuningan - Jawa Barat
Phone: (0232) 613061

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Deluxe Recreation View : 700.000
Deluxe Montain View : 850.000
Anandita : 1000.000
Amanda : 1250.000
Audi Cottage Recreation View : 1850.000
Arindra Suite Cottage : 2350.000
Extra Bed : 120.000

Resort Prima
Beralamat di: Jl Panawuan, Sangkanhurip, Kuningan
Phone: (0232) 613700

Daftar Harga menginap per malamnya adalah (dalam Rupiah):
Standard : 300.000
Superior : 400.000
Deluxe : 500.000
Standard Bungalow : 800.000
Family Bungalow : 1150.000
Suite Bungalow : 2500.000
Royal Suite : 3500.000
Pondok Sekdes : 900.000
Pondok Kuwu : 1100.000
Pondok Pamong : 750.000

Sementara ini saja dulu. Bagi yang ingin melengkapi silahkan di kolom komentar....

Wednesday, May 19, 2010

Menyibak Misteri Situs Gunung Singkil

Selain di Kuningan ada Situs Cipari di Cirebon pun terdapat pula situs lain yang tak kalah bersejarahnya. Situs ini adalah Situs Gunung Singkil, sebuah situs purbakala yang berlokasi di Kampung Ciawijapura, Desa Ciawijapura, Kecamatan Susukan Lebak, Kabupaten Cirebon. Secara geografis, situs ini berada pada posisi 108° 35' 792" BT dan 06° 51' 723" LS dengan ketinggian sekitar 190 m dpl, dan menempati luas sekitar 10 x 50 m.

Untuk mencapai situs Gunung Singkil ini pengunjung dapat menggunakan baik kendaraan roda dua maupun roda empat melalui Kecamatan Sumber. Begitu sampai di Kampung Ciawijapura, Desa Ciawijapura, Kecamatan Susukan Lebak, Kabupaten Cirebon karena lokasi Situs Gunung Singkil ini berada tepat di tengah-tengah areal pesawahan penduduk maka kemudian perjalanan pun harus dilanjutkan dengan berjalan kaki melalui pematang sawah yang memakan waktu sekitar 10 menit.

Keberadaan situs ini sendiri pertama kali diketahui berdasarkan laporan lisan dari Musa Semiana, seorang penilik kebudayaan Kecamatan Lemah Abang, dan Dadang, yang merupakan Kepala Urusan Ekonomi dan Pengembangan Desa Ciawijapura pada tahun 1993. Dari hasil laporan itulah kemudian dilakukan peninjauan oleh Muchtar, Kepala Seksi Kebudayaan, Kantor Depdikbud Kabupaten Cirebon.

Karena letaknya yang persis di tengah-tengah areal pesawahan penduduk dan menempati sebuah bukit maka dari kejauhan pun situs ini akan sangat mudah dikenali. Benda-benda purbakala yang terdapat di situs ini sendiri adalah berupa 4 buah prasasti dari batu alam yang bertuliskan huruf China (yang salah satunya terdapat di rumah warga), bukit berbatu yang tersusun berunduk 12 teras dengan kemiringan sekitar 30° setinggi 11 meter, batu monolit 7 buah yang salah satunya merupakan susunan batu kali yang digunakan sebagai tempat sesajian.

Ketiga prasasti yang terdapat di Situs Gunung Singkil ini sendiri masing-masing sebagai berikut:


  1. Prasasti pertama berada pada teras ke-6 dan bertuliskan 3 huruf Kanji yang tersusun horizontal. Isi prasasti ini sendiri menyebutkan nama orang yakni Khou See Tjoo.

  2. Prasasti kedua berada pada teras ke-8. isi dari prasasti ini sendiri menyebutkan tentang seseorang yang bernama Xu Ya Xiao dari Dinasti Qing dan berasal dari Desa Xi Qi Xu Kabupaten Jie Yang, Karesidenan Chao Zou. Seperti yang tertulis dalam prasasti tersebut, beliau meninggal dan dimakamkan pada tahun 1848. Ukuran prasasti ini sendiri adalah sebagai berikut: tinggi 1,60 m, dengan panjang 3,14 m, dan dengan ketebalan 2,15 m.

  3. Prasasti yang ketiga adalah sebuah prasasti yang bercerita tentang Dewi Bumi (Hou Dhu) yang ditulis dengan huruf Kanji yang melintang vertikal sebanyak satu baris. Ukuran prasasti ini sendiri adalah dengan tinggi 95 cm dan berdiameter sekitar 80 cm.


Untuk prasasti yang keempat yang tersimpan di rumah penduduk, ketika Portal Cirebon berkesempatan mendatangi rumahnya, sang empunya rumah sedang tidak ada. Jadi untuk prasasti yang keempat ini sendiri Portal Cirebon tak bisa menjabarkan baik bentuk maupun isi dari prasasti tersebut. Ketika coba mencari di mesin pencari Google pun hasilnya nihil. Mungkin ada salah satu dari pembaca yang mengetahuinya?

Dari dua prasasti yang terdapat di Situs Gunung Singkil yang menyebut nama orang di dalamnya (Khou See Tjoo dan Xu Ya Xiao) ini sendiri pun Portal Cirebon tidak begitu tahu apa dan siapa orang yang tertulis di prasasti tersebut. Minimnya literature membuat Portal Cirebon makin kesulitan untuk mengidentifikasi kedua orang tersebut. Apakah kedua orang ini merupakan utusan kerajaan, atau hanya pedagang biasa seperti lazimnya pedagang-pedagang dari China yang memang banyak berdatangan ke Kota Cirebon pada masa itu masih merupakan sebuah misteri yang harus segera terpecahkan.

Monday, May 17, 2010

Menikmati Empal Gentong Racikan Mang Darma

Pada hari Minggu kemarin saya bersama istri berkesempatan untuk menikmati (kembali) Empal Gentong Mang Darma setelah sekian lama tak berkunjung ke gerai yang berlokasi di stasiun Kereta Cirebon ini. Di lokasi ini sebenarnya ada dua gerai empal gentong yang sangat terkenal yakni Empal Gentong Mang Darma dan Empal Gentong Putra Mang Darma. Tapi saya lebih memilih gerai Empal Gentong Mang Darma. Meski sebenarnya untuk dapat menikmati empal gentong ini mesti rela ngantri karena padatnya pengunjung, terlebih di hari libur begini tapi saya terutama istri tetap melakukannya. Sebenarnya empal gentong milik putra Mang Darma sendiri rasanya hampir tak kalah nikmat dengan gerai milik Mang Darma ini, tapi saya bersama istri tetap bersikukuh untuk tidak berpindah tempat dan rela untuk ngantri. Entah kenapa. mungkin semacam prestise saja, bahwa lebih afdol rasanya kalau menikmati empal gentong ini langsung dari tangan pertama yakni milik sang bapak. Fanatisme yang tak begitu penting dan tak layak dicontoh samasekali memang.

Untuk sekedar informasi, empal gentong Mang Darma ini selain dua yang terdapat di Stasiun Kereta Api Cirebon ini, ada beberapa gerai lainnya jika anda malas untuk ngantri di tempat ini yakni yang ada di di Jl. Slamet Riyadi (Empal Gentong Bu Darma) dan satu gerai lainnya terdapat di dalam areal Grage Mall yang kesemuanya dikelola oleh Mang Darma dan keluarganya.



Dan seperti sebelum-sebelumnya, rasa empal gentong ini memang tak pernah berubah. Tetap nendang di lidah dan senantiasa membuat pengunjung selalu rindu untuk kembali lagi dan lagi. Mungkin cita rasa yang senantiasa ngangenin inilah yang membuat gerai empal gebtong ini begitu padat pengunjung tiap harinya dan begitu terkenal bahkan hingga jauh ke luar kota Cirebon. Padahal seperti halnya empal gentong-empal gentong yang tersebar di setiap sudut kota Cirebon, bahan maupun bumbu empal gentong di tempat ini hampir tak jauh berbeda yakni daging dan jeroan sapi yang dibanjur dengan kuah mirip soto. Pun begitu dengan cara memasaknya yang sama saja dengan empal gentong kebanyakan yaitu di masak dalam gentong dari tanah liat, kemudian disajikan bersama dengan bumbu-bumbu rempah yang khas dan juga taburan bawang goreng, daun seledri dan daun bawang di atasnya.

Untuk menikmati empal gentong di sini pengunjung diberi kebebasan memilih pelengkapnya apakah ingin memakai nasi atau lontong. Pun boleh juga kalau hanya ingin menikmati empal gentongnya saja tanpa nasi atau lontong sama sekali. Karena di rumah sebelum berangkat ke tempat ini saya dan istri menyempatkan makan terlebih dahulu maka kami pun hanya meminta empal gentongnya saja tanpa lontong atau nasi sama sekali. Hanya empal gentong dan beberapa kerupuk lambak (kerupuk yang terbuat dari kulit kerbau) selaku pelengkap nikmatnya menyantap seporsi masakan yang begitu legendaries ini.

Oh iya, di tempat ini pun pengunjung dapat memilih sendiri daging dan jeroan yang dikehendaki. Jadi, jika Anda punya sedikit masalah dengan kolesterol, Anda masih tetap bisa menikmati masakan ini dengan meminta kepada empunya warung untuk tidak ditambahi jeroan dan hanya minta kuah dan daging sapinya saja. Dan jangan lupa juga, tambahkan bubuk cabai kering yang tersedia di atas meja ke dalam empal gentong Anda itu untuk lebih memperkuat rasanya. Pokoknya kalau mengikuti kata-katanya anak muda jaman sekarang, dijamin rasanya mantabh surantabh banged!!

Sunday, May 16, 2010

Bencana Tanah Longsor di Kecamatan Bantarujeg, Majalengka

Bencana tanah longsor yang melanda 6 desa yang ada di Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka pada sabtu sore kemarin memporak-porandakan sedikitnya 12 rumah. Beruntung, dalam bencana ini tidak terdapat korban tewas dan hanya beberapa korban luka saja. Bencana tanah longsor ini sendiri terjadi kira-kira sekitar pukul 18.30, bermula dari hujan deras yang tak kunjung berhenti sejak pukul 14.00 wib. Tragisnya lagi, longsor bersamaan dengan meluapnya sungai di kawasan tersebut yakni Sungai Cilitung. Akibatnya, disamping longsor, terjangan banjir makin mempersulit medan karena banjir itu kemudian merusakkan jembatan gantung sepanjang 84 meter yang menghubungkan desa-desa di kawasan itu dengan kota kecamatan.

Keenam desa yang menderita tanah longsor tersebut masing-masing Desa Haurgeulis, Gunung Warang, Cikidang, Siliwangi, Salawangi dan Wado Wetan. Jika dilihat dari kontur tanah yang berbukit, keenam desa tersebut memang terletak di kawasan perbukitan yang rawan longsor.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Portal Cirebon, desa yang paling parah dalam bencana ini adalah di Desa Gunung Warang. Di desa ini sedikitnya 8 rumah rusak parah dan empat diantaranya bahkan tertimbun longsoran hingga rumah tersebut rata dengan tanah. Empat rumah yang rata dengan tanah itu adalah masing-masing milik Kasta, Karna, Arsiyah dan Santiya. Santiya, sang pemilik salah satu rumah tersebut bahkan sempat ikut tertimbun bersama rumahnya karena ketika longsor terjadi beliau sedang menonton televisi di dalam rumahnya. Untung, warga dengan bergotong royong akhirnya berhasil mengeluarkan Santiya dari reruntuhan.

Karena akses jalan yakni jembatan gantung yang menghubungkan keenam desa tersebut dengan kota kecamatan terputus, sampai Minggu sore kemarin warga korban bencana tanah longsor belum dapat bantuan dari pemda setempat dan para korban yang rumahnya rusak pun kini hanya bisa menumpang di rumah tetangga dan kerabatnya.

Thursday, May 13, 2010

Korban Miras Oplosan di Cirebon Terus Bertambah

Korban meninggal akibat menenggak miras oplosan di Cirebon pada Kamis kemarin (11/5) kini bertambah menjadi 17 orang setelah hari sebelumnya berjumlah 14 orang. Ketiga korban yang menyusul 14 korban sebelumnya itu masing-masing bernama Ahmad Zaelani (20), Nursan (17) yang keduanya tercatat sebagai warga Desa Kalianyar, Kec. Panguragan, Kab. Cirebon. Satu korban lainnya teridentifikasi bernama Suryadi (22) yang merupakan warga Desa Tegal Karang, Kec. Palimanan, Cirebon.

Ketiganya meninggal dunia masing-masing setelah di rawat di dua rumah sakit berbeda. Suryadi menghembuskan nafas terakhir ketika dalam masa perawatan di R.S Sumber Waras Ciwaringin dan dua lainnya yakni Ahmad Zaelani dan Nursan di RSUD Arjawinangun. Ketiganya kini telah di kuburkan di TPU desa masing-masing.

Ketiga korban miras palsu ini menenggak miras di tempat terpisah. Seperti misalnya Nursan dan Ahmad Zaelani berpesta miras secara terpisah pada Jumat lalu ketika ada sebuah pertunjukan film layar tancap di rumah warga yang tengah hajatan di desa tersebut. Sementara Suryadi sendiri menenggak miras tersebut bersama kawan-kawannya ketika di desa mereka ada pertunjukan musik.

Jumlah korban tewas akibat miras oplosan yang di duga palsu itu disinyalir akan terus bertambah karena peredaran miras palsu itu kini konon telah menyebar hampir di semua Kecamatan di Cirebon. Portal Cirebon menemukan sedikitnya sekitar 90-an pasien yang kini sedang dirawat di RSUD ARJAWINANGUN akibat menenggak miras palsu yang dioplos ini. Belum lagi yang dirawat di berbagai rumah sakit lain di Cirebon seperti di RS Mitra Plumbon, RS Pelabuhan, RS ZAMZAM Jatibarang dan sebagainya.

Terkait dengan kejadian itu, kini Polwil Cirebon makin getol merazia tempat-tempat yang diduga menjual dan mengedarkan miras demi meminimalisir makin bertambahnya korban-korban lain. Meski langkah ini dinilai terlambat, masyarakat cukup senang dengan apa yang dilakukan polisi ini. "Daripada tidak sama sekali," begitulah jawaban warga ketika ditanya Portal Cirebon.

Bentuk Penghargaan Warga Cirebon Untuk Seniman Mereka

Dulu, pada dasawarsa 80-an hingga 90-an ketika ada seniman-seniman besar sedang berpentas di sebuah kampung dan kebetulan di kampung tersebut ada warga yang melahirkan bayi maka ada semacam tradisi untuk meminta sang seniman tersebut memberikan nama pada sang bayi sekaligus mengangkatnya sebagai anak. Anak dalang begitulah sebutannya. Salah satu photo yang berhasil di dapat oleh Portal Cirebon dari salah seorang warga di Desa Cidenok, Majalengka sekaligus mewawancarainya didapat kesimpulan bahwa yang mendorong warga pada saat itu adalah karena menjadi anak angkat (anak akon-akon) sang dalang (seniman) besar merupakan suatu kebanggaan tersendiri.



Pada masa itu, profesi seniman di mata masyarakat merupakan suatu profesi yang cukup bermartabat, "Dudu pegaweane wong biasa," begitu kata sang nara sumber. Meski seniman panggung bukan merupakan jenis profesi yang berpenghasilan besar namun ada semacam rasa pekewuh dan hormat pada profesi ini karena pekerjaan sang seniman merupakan pekerjaan yang dianggap mulia yakni menghibur orang. Tidak semua orang memiliki talenta seperti yang dimiliki sang dalang.

Makanya, seperti yang terlihat dalam photo, meski saat itu belum ada penerangan listrik di kampung tersebut sang nenek tetap memaksakan diri menggendong cucunya yang belum juga berumur satu hari itu ke panggung demi mendapat hadiah nama dari sang dalang. Sebuah penghormatan yang begitu besar dari warga untuk sang seniman.

Di Desa Cidenok sendiri dari penelusuran Portal Cirebon menemukan tak kurang dari 4 orang yang menjadi anak angkat sekaligus memiliki nama pemberian dari sang dalang. 2 orang mendapat nama dari pemimpin Putra sangkala yakni Abdul Adjib dan dua lainnya masing-masing dari pemimpin Sandiwara Indra Putra dan Dalang Wayang Kulit terkenal pada masa itu. "Tiap dalang sing ngaku anak ning kula ditanggap ning desa kien lan tangga desa biasane kula dikabari ambir bisa teka. Baka wis ketemu ya biasane dijak ngobrol. Wis kawin durung, due anak pira. Pokoke ya kaya anak ketemu bari bapane bae." ("Tiap dalang yang mengangkat anak sama saya berpentas di desa ini ataupun di desa tetangga biasanya saya akan dikabari agar bisa datang. ketika ketemu ya ngobrol macam-macam. Sudah kawin belum, punya anak berapa. Pokoknya ya seperti bertemunya orang tua dengan anaknya," -pen) Empat orang dalam satu desa untuk masa itu ketika tidak semua orang mampu mendatangkan seniman besar (nanggap, begitulah istilahnya) pun di tambah lagi tidak setiap sang seniman besar mentas di suatu kampung ada ibu-ibu yang melahirkan. Maka empat orang anak dalang dalam satu kampung jelas bukanlah jumlah yang sedikit.

Jadi, meski prosesi pemberian nama dan pengangkatan anak itu terbilang sederhana dan mendadak tapi bukan berarti kemudian setelahnya dilupakan begitu saja. Hubungan ayah - anak itu tetap terjalin meski tentu tak seperti orang tua dengan anak kandung sendiri.

Sayangnya, seiring makin majunya tatanan kehidupan manusia, tradisi itu kini hampir ditinggalkan kalau tidak dibilang hilang sama sekali. Mungkin karena sekarang di zaman yang kian berderap mengejar keduniawian orang lebih resfect pada profesi yang lebih mudah mendatangkan uang seperti Dokter, insinyur dan sebagainya. Dan imbasnya profesi dalang panggung pun tak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Hanya dibutuhkan sebagai pemeriah hajatan. Dampak langsung ari semua itu tentu adalah tak lagi ada seorang nenek yang repot-repot membawa cucu tercintanya ke atas panggung demi sepotong nama dan pengakuan dari sang dalang panggung. Sangat disayangkan memang. Duh, dalang...... nasibmu kini.

Situs Cipari, Potret Zaman Megalitik Menuju ke Zaman Perunggu

Situs Cipari adalah sebuah situs di Kabupaten Kuningan, yang tepatnya terletak di Desa Cipari Kecamatan Cigugur. Situs Cipari sendiri terletak di daerah lembah di atas ketinggian 700 m dpl dan pada koordinat 1080 28' 156" BT, 060 57' 723" LS, sekitar 3 km ke arah barat dari pusat kota Kuningan. Untuk mencapai situs ini pengunjung dapat menggunakan baik kendaraan roda dua maupun roda empat dengan mudah karena jalan menuju situs ini cukup lebar dan beraspal. Luas situs ini sendiri mencapai 700 m2 dan menjadi bagian dari areal Taman Purbakala Cipari yang luasnya mencapai 2500 m. Dan karena berada dalam lingkungan Taman Purbakala maka situs Cipari pun lebih dikenal dengan Taman Purbakala Cipari. Sejak pertama kali ditemukan yaitu pada tahun 1971/1972 oleh penduduk setempat yang kemudian dilakukan penggalian oleh Pemda Kuningan situs ini pun kemudian di buka untuk umum sebagai pilihan sarana wisata Budaya yang lebih menitik beratkan pada sisi pendidikan.

Situs Cipari berdasarkan tipologi dan statigrafi diperkirakan pernah mengalami 2 kali masa pemukiman yaitu pemukiman manusia pada akhir masa neolitik dan awal pengenalan masa perunggu (masa perundagian) yang berkisar antara tahun 1000 SM s.d 500 SM. Bukti-bukti peninggalan manusia pada akhir masa neolitik dan awal pengenalan masa perunggu sendiri dapat ditemukan dalam berbagai artefak yang terdapat di situs ini yang antara lain fragmen tembikar seperti pernik, kendi, piring, pedupaan dan cawan, gelang batu, beliung persegi, kapak perunggu dan manik-manik, tulang hewan yang kesemuanya didapat dari hasil penggalian dua peti kubur. Sayangnya dalam penggalian dua kuburan batu (yang satu lengkap dengan penutup kuburnya yang berukuran 16 x 56 x 59 cm) di dalam peti kubur tersebut tidak ditemukan sisa jasad manusia melainkan hanya bekal kuburnya saja seperti yang Portal Cirebon sebutkan di atas. Karena melihat temuan-temuan di atas tadi maka dari itulah situs Cipari di duga kuat berasal dari masa perundagian (paleometalik atau perunggu besi) yaitu zaman manusia di masa transisi antara zaman megalitik menuju ke zaman perunggu.


kuburan batu di situs Cipari



Tidak hanya artefak-artefak seperti yang saya sebutkan di atas saja yang terdapat dalam situs Cipari ini melainkan masih banyak juga peninggalan-peninggalan sejarah lain yang tak kalah menakjubkan seperti misalnya pintu gerbang arah kiri ke kanan akan dijumpai menhir dengan tatanan batu, menhir dengan tatanan lempengan batu sekeliling di bagian bawah kuburan, dan juga kapak batu sebagai hasil kebudayaan manusia pada zaman itu. Kondisi objek situs pun masih tetap sama sesuai dengan kondisi pertama kali ditemukan meski ada beberapa bagian yang ditambahkan pada situs ini seperti misalnya lantai jalan setapak di taman purbakala Cipari yang ditambahkan susunan lempeng batu yang diupayakan agar serasi dengan tinggalan megalitik yang dominant terbuat dari batu.

Sebenarnya masih banyak hal lainnya yang bisa anda saksikan di Taman Purbakala ini, tapi tentu Anda harus berkunjung sendiri ke sini untuk lebih detilnya. Lagipula jika saya paparkan semua di sini tentu Anda semua akan melewatkan efek kejutnya ketika berkunjung ke sini. Yang pasti, tempat ini layak untuk Anda kunjungi bersama keluarga. Sambil menikmati udara Kuningan yang sejuk Anda pun akan mendapat pengetahuan yang mungkin mampu menjawab rasa penasaran Anda akan peradaban zaman purbakala.

Wednesday, May 12, 2010

Masjid Panjunan Nan Eksotik

Selain Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang terkenal dengan ornament khas dan adzan pitu-nya itu, di Cirebon pun sebenarnya memiliki masjid tua lainnya yang tak kalah eksotis dibanding Masjid Sang Cipta Rasa. Masdjid itu adalah Masjid Panjunan atau biasa dikenal juga dengan sebutan Masjid Merah. Kata Panjunan sendiri merujuk pada nama kampung sekaligus nama lain dari sang pendiri yang dikenal dengan Pangeran Panjunan salah satu tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Baghdad. Menurut risalah kuno Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan sendiri sebenarnya adalah Maulana Abdul Rahman, tapi karena berdiam di desa Panjunan yakni sebuah kampung yang juga menjadi sentra pembuat kerajinan keramik tradisional (Jun berarti Keramik) maka seperti lazimnya pada zaman itu sang tokoh tersebut akan dikenal dengan merujuk nama tempat tinggalnya.



Masjid yang termasuk ke dalam lima masjid tertua di Nusantara ini dibangun pada tahun 1453 M. jauh sebelum masjid Sang Cipta Rasa di bangun (1549 M) bahkan lebih tua dari masjid Demak (1477) dan Masjid Menara Kudus (1530). Bentuk Masjid sendiri berukuran sangat mungil tapi begitu eksotis bergaya arsitektur kuno perpaduan antara seni tradisional Tiongkok dan arsitektur khas Hindu - Majapahit yang pada masa itu masih sangat berpengaruh. Jadi sebagai kota yang memang secara histories geografis merupakan kota persimpangan antara dua tempat yakni Jawa dan Sunda membuat Cirebon begitu kaya warna sekaligus khas. Dan masjid Panjunan sendiri merupakan bukti nyata dari perpaduan antar beberapa kebudayaan itu yang kemudian saling menyatukan diri untuk kemudian menumbuhkan gaya dan budayanya sendiri yang begitu khas dan eksotis. Gaya seni tradisional Tiongkok pada masjid ini bisa dilihat dari bertebarannya piring-piring keramik Cina asli sebagai penghias ornament di hampir seluruh badan dan pagar masjid. Sedangkan untuk gaya arsitektur Majapahit bisa ditelusuri dari gaya dan pola bangun arsitektur yang hampir seluruhnya menggunakan bata merah menonjol dengan pagar dan gapura berunduk sebagai jalan masuk menuju areal masjid. Dan karena gerbang yang berwarna merah mencolok inilah masjid ini mendapat julukan lainnya yakni Masjid Merah.

Menurut legenda yang berkembang di Masyarakat dan juga merujuk pada buku-buku kuno pada zaman itu, piring-piring porselen yang menghiasi hampir seluruh body masjid ini didatangkan langsung dari China tempat di mana kerajinan ini berasal sebagai hadiah dari Kaisar China untuk Sunan Gunung Jati karena beliau bersedia menikahi putri sang kaisar yang bernama Tang Hong Tien Nio. Portal Cirebon sendiri tidak mengetahui persisnya apakah pengiriman itu memang dikirim hanya satu kali tapi dalam jumlah yang sangat besar atau memang terjadi pengiriman keramik secara berkala ke Cirebon oleh sang Kaisar karena pada kenyataan bukan hanya pada masjid Panjunan saja (secara histories masjid panjunan punya kedejatan dengan kalangan keraton karena memang Pangeran Panjunan sendiri merupakan salah satu murid dari Sunan Gunung Jati) tapi hampir di seluruh bangunan-bangunan bersejarah yang bertebaran di Cirebon pada umumnya menggunakan media keramik China ini sebagai ornamennya.

Selain Anda bisa berziarah sekaligus menikmati keindahan masjid ini, Anda pun berkesempatan menelusuri sentra pembuatan keramik tradisional yang masih terus dilestarikan oleh keturunan dari Pangeran Panjunan sendiri. Dan jika beruntung, pada saat-saat tertentu Anda pun akan di suguhi tradisi dan minuman khas Arab yakni tradisi minum gahwa yang juga masih terus dipertahankan oleh para keturunan dari Pangeran Panjunan ini.

.

.

Gambar diambil dari Berita Cirebon

Tuesday, May 11, 2010

Dusun Keputihan, Dusun Tanpa Genteng

Jika di Tasikmalaya ada Kampung Naga yang merupakan perkampungan adat yang masih begitu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya leluhurnya maka di Cirebon pun ada perkampungan yang kurang lebih memiliki kesaman dengan kampung tersebut yakni di Dusun Keputihan yang terletak di sebelah utara kota Sumber, tepatnya di Desa Kertasari Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon. Nama Keputihan sendiri konon berasal dari kejadian aneh di masa lampau. Di tengah dusun itu terdapat sebuah sumur tua yang secara tiba-tiba dari dalamnya menyembul segumpal tanah berwarna putih susu sebesar setengah lingkar sumur tersebut. Tanah yang semula hitam layaknya warna Lumpur menjadi berwarna putih itu membuat warga gempar. Sejak kejadian itulah nama dusun ini dinamakan dusun Keputihan.

Mata pencaharian sebagian warga dusun yang hanya terdiri dari 12 rumah ini sendiri adalah buruh tani dan sebagian lainnya menjadi buruh menganyam kursi rotan di desa tetangga yaitu di sentra kerajinan rotan di desa Sindang Wangi Plumbon. Sebagai sampingan penghasilan, kaum perempuannya bekerja juga sebagai pembuat net voli atau tenis. Pekerjaan tersebut dilakukan di rumah dengan upah Rp 2.000-Rp 6.000 per satu net.

Yang menarik dari dusun ini adalah tentang keteguhan mereka untuk menjaga warisan budaya leluhurnya. Bukti-bukti tradisi leluhur yang paling mencolok dan begitu kukuh tak tergoyahkan oleh perubahan zaman adalah salah satunya bangunan rumah warganya yang masih begitu tradisional yakni hanya memakai gedeg bambu (bilah-bilah bambu yang di anyam hingga membentuk pagar rapat), beratapkan atap yang terbuat dari welit yaitu daun tebu kering yang disusun sedemikian rupa dan dijepit dengan bilah bambu di tiap ujungnya, dan lantai yang dibiarkan tak berplester apalagi berkeramik. Di beberapa bagian rumah seperti untuk ruang tamu hanya dialasi dengan terpal dan sama sekali tak ada perabotan seperti sofa dan lainnya. Para tamu dipersilahkan untuk duduk lesehan layaknya orang Jepang, atau pada amben (bale dari bambu yang dipipihkan) di beranda rumah.

Untuk kamar mandi sendiri, warga dusun keputihan membangun kamar mandinya di luar rumah dan masih menggunakan sumur kerek dengan timba dan ember untuk mengambil air. Kamar mandinya pun terbilang sangat sederhana dan sedikit terbuka yang hanya ditutupi dengan penutup seadanya setinggi pusar orang dewasa hingga jika mandi haruslah sambil berjongkok. Sumur-sumur ini pun tak jarang merupakan sumur bersama yang artinya jika ingin mandi maka harus bergilir dengan tetangga, pun begitu dengan perawatannya seperti menguras sumur tiap bila sumber air mulai menyusut atau air mulai sedikit keruh maka para tetangga yang merasa ikut mandi di sumur tersebut akan saling bergotong royong melakukannya.

Ya, gotong royong, sebuah kearifan lokal yang tercatum dalam butir ppancasila itu memang masih begitu mengakar di kalangan warga dusun Keputihan ini. Setiap ada warga yang membutuhkan tenaga banyak orang seperti membangun rumah, hajatan, kendurian dan sebagainya maka para tetangga tidak akan segan-segan ikut membantu tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Menyenangkan bukan gaya hidup seperti itu?

Perihal atap rumah yang sama sekali tak menggunakan genteng itu warga Dusun Keputihan punya cerita tersendiri. Seperti yang dituturkan salah satu warga bahwa genteng merupakan barang haram di dusun ini karena konon sejak dulu tiap kali ada warga Dusun Keputihan yang menggunakan genteng sebagai atap rumahnya maka orang tersebut dipastikan akan terkena mala seperti selalu sakit-sakitan dan bahkan meninggal mendadak. Warga sendiri tak tahu persis bagaimana awalnya hal itu bisa terjadi dan apa penyebabnya, hanya saja karena korban yang berjatuhan tiap rumahnya beratapkan genteng tidak hanya menimpa pada satu atau dua warga maka warga Dusun Keputihan ini kemudian percaya bahwa rumah di dusun ini tak boleh menggunakan genteng sebagai atapnya.

Karena masih memegang teguh warisan leluhurnya ini, warga Dusun Keputihan tiap bulannya menyelenggarakan selametan yang dipimpin oleh tetua kampung tersebut yang bertujuan untuk mengusir roh jahat yang menghinggapi kampung tersebut sekaligus meminta perlindungan keselamatan dan keberkahan kepada sang pencipta.

Jika Anda ingin menikmati suasana pedesan yang masih begitu kental dengan budaya leluhur maka Dusun Keputihan harus masuk ke dalam agenda tempat wajib kunjung. Dusun ini sangat cocok untuk melepas penat setelah sekian lama disibukkan oleh berbagai pekerjaan yang menuntut. Tenang saja, meski dusun ini masuk ke dalam wilayah Cirebon yang terkenal panas tapi dusun ini begitu sejuk dengan pepohonan yang tinggi dan dikelilingi oleh sawah dan ladang yang menyejukkan mata.

Saturday, May 8, 2010

Budidaya Kerang Hijau

Disamping terkenal dengan hasil udangnya, Cirebon pun sebenarnya memiliki potensi kelautan lain yang jika dikembangkan memiliki prospek yang lumayan menguntungkan. Karena pantai Cirebon yang berupa teluk yang hampir berupa busur dengan ombak yang agak tenang memungkinkan kerang hijau hidup bergerombol, dan ini jelas memudahkan para pembudidaya kerang hijau.

Cara membudi dayakannya pun relatif cukup mudah yakni nalayan hanya perlu menancapkan batang bambu yang disusun sedemikian rupa (bagan) sebagai media untuk menempel kerang. Disamping itu, budidaya kerang hijau pun sangat menguntungkan para nelayan karena tidak perlu mengeluarkan biaya pakan dan pasarannya sangat bagus karena disukai konsumen.

Harga kerang hijau di pasaran saat ini tiap per kilo kerang hijau dipatok dengan harga 2.500 dengan pasaran utama kota Jakarta. Enaknya lagi, harga kerang hijau di pasaran cukup stabil yang memungkinkan nelayan yang membudidayakannya tak perlu terlalu khawatir kalau-kalau saat panen raya harga kerang hijau di pasaran bisa turun.

Mungkin satu-satunya kendala budidaya kerang hijau ini adalah tergantung dari kondisi air lautnya yakni apakah sudah tercemar oleh logam berat atau belum. Dan karena kerang hijau konon bisa menyerap unsur kimia seperti Pb dan timbale yang akan sangat berbahaya jika kemudian dikonsumsi manusia, maka ada baiknya pemerintah Cirebon segera meneliti apakah perairan laut di Cirebon sudah tercemar oleh logam berat atau belum. Tapi jika dilihat dari pertumbuhan kerang hijau yang lumayan pesat dan cukup besar yaitu sekitar 100 ton kerang hijau dihasilkan nelayan Cirebon setiap kali panen maka sepertinya perairan laut di Cirebon memang masih cukup baik untuk budidaya kerang hijau ini.

Anda tertarik?

Friday, May 7, 2010

Nasi Lengko Pagongan

Nasi lengko Pagongan merupakan penjual nasi lengko khas Cirebon yang paling ramai dikunjungi pengunjung, baik oleh warga Cirebon sendiri maupun oleh warga dari luar kota yang kebetulan sedang berada di Cirebon atau memang sengaja datang ke Cirebon untuk berwisata kuliner sekaligus berwisata Budaya. Nama nasi lengko Pagongan sendiri adalah karena outlet tempat dimana H. Barno sang pemilik warung membuka gerainya di jalan Pagongan.

Seperti nasi lengko pada umumnya, racikan dari nasi lengko ini sebenarnya sama saja dengan nasi lengko pada umumnya yaitu berupa nasi putih yang diatasnya dibubuhi irisan ketimun, tahu tempe yang dipotong dadu kecil-kecil, tauge, gorengan bawang lalu disiram dengan kecap manis dan sambal bumbu kacang yang lumayan pedas. Yang membuat nasi lengko ini menjadi sangat diminati adalah bumbu kacangnya yang lebih legit dan terasa nendang di lidah. Nasi lengko ini akan lebih nendang di lidah ketika menyantapnya ditemani dengan sate kambing yang juga khas Pagongan.



Nasi lengko ini pun yang juga membuat rasanya lebih khas adalah karena cara memasaknya masih menggunakan cara-cara tradisional yang antara lain untuk menanak nasi digunakan kayu bakar di atas tungku tanah, sementara untuk menggoreng tahu dan tempe digunakan anglo (kompor tradisional) yang menggunakan arang. Semua itu dilakukan demi mempertahankan rasa nasi lengko menjadi sangat khas.

Template by - Abdul Munir