Home » , » Sejarah Kota Majalengka

Sejarah Kota Majalengka

Written By Novita Anggraeni on Friday, January 30, 2009 | 10:00 AM

JAMAN HINDU

Kerajaan Hindu di Talaga
Pemerintahan Batara Gunung Picung
Pada abad ke XIII Masehi, di Talaga berdiri sebuah kerajaan yang di perintah oleh raja yang bergelar Batara Gunung Picung. Batara Gunung Picung merupakan putra ke V dari Ratu Galuh yang bertahta di Ciamis.

Jika ditilik lebih jauh, baik Batara Gunung Picung maupun Ratu Galuh sebenarnya masih mempunyai silsilah darah dengan raja-raja yang bertahta di Pajajaran atau yang lebih dikenal dengan raja Siliwangi. Maka dari itu, seperti juga Pajajaran, kerajaan ini pun baik raja maupun rakyatnya sebagian besar menganut agama Hindu.

Meski kerajaan ini terbilang kecil (daerah kekuasaannya meliputi Talaga, Cikijing, Bantarujeg, Lemahsugi, dan sebagian Majalengka selatan) tapi sarana dan prasarana untuk menunjang kemakmuran rakyatnya terbilang cukup baik, hal ini terbukti dengan dibangunnya sarana jalan sepanjang lebih dari 25 KM yang membujur antara talaga sampai Salawangi, Cakrabuana, dan sarana irigasi di Cigawong untuk mengairi pertanian yang ada di daerah Cikijing.

Batara Gunung Picung yang memimpin tampuk kerajaan sekitar dua windu ini mempunyai 6 putra yaitu :

  • Sunan Cungkilak

  • Sunan Benda

  • Sunan Gombang

  • Ratu Panggongsong Ramahiyang

  • Prabu Darma Suci

  • Ratu Mayang Karuna


Akhir pemerintahannya kemudian dilanjutkan oleh Prabu Darma Suci.

Pemerintahan Prabu Darma Suci
Entah kenapa yang kemudian menggantikan Batara Gunung Picung sebagai raja bukannya putra pertama yang bernama Sunan Cungkilak, melainkan Prabu Darma Suci, portal cirebon sendiri belum tahu. Tapi yang pasti, pada masa pemerintahan raja yang berlangsung antara abad ke XIII ini agama hindu berkembang dengan sangat pesatnya. Bahkan karena kemashyuran hindu ini, Prabu Darma Suci pun dikenal luas hingga ke Sumatra, hal itu terbukti dari banyaknya pantun yang bercerita tentang banyaknya kunjungan tamu-tamu yang datang ke Talaga.

Pada abad ke XIIX Prabu Darma Suci wafat dan meninggalkan dua putra yaitu :

  • Bagawan Garasiang

  • Sunan Talaga Manggung


Pemerintahan Begawan Garasiang
Tahta untuk sementara dipangku oleh Begawan Garasiang, namun beliau sangat mementingkan Kehidupan Kepercayaan sehingga akhirnya tak lama kemudian tahta diserahkan kepada adiknya Sunan Talaga Manggung.

Tak banyak yang diketahui pada masa pemerintahan raja ini selain kepindahan beliau dari Talaga ke daerah Cihaur Maja.

Pemerintahan Sunan Talaga Manggung
Pada pemerintahan Sunan talaga Manggung Inilah, Kerajaan ini mencapai masa keemasannya. Pertanian, sastra dan agama berkembang pesat pada masa pemerintahan Sunan Talaga Manggung ini. Hubungan diplomatik pun terjalin cukup baik dengan kerajan-kerajaan tetangga hingga kerajaan yang cukup jauh seperti Majapahit dan Sriwijaya.

Sayangnya, kemashyuran yang dicapai oleh raja yang berputra dua orang yang masing-masing bernama Raden Pangrurah dan Ratu Simbarkencana ini membuat banyak orang mengincar tahtanya. Dan pada puncaknya beliau pun tewas akibat ditikam oleh Centang Barang suruhan dari Patih Palembang Gunung. Kemudian Palembang Gunung menggantikan Sunan Talaga Manggung dengan beristrikan Ratu Simbarkencana, anak kedua dari raja yang ditumbangkannya. Tidak beberapa lama kemudian Ratu Simbarkencana membunuh Palembang Gunung atas petunjuk hulubalang Citrasinga dengan tusuk konde sewaktu tidur.

Dengan tewasnya Palembang Gunung, maka Ratu Simba Kencana pun naik tahta dan kemudian menikah dengan turunan Panjalu bernama Raden Kusumalaya Ajar Kutamanggu dan dianugrahi 8 orang putera diantaranya yang terkenal sekali putera pertama Sunan Parung. Pemerintahan Ratu Simbarkencan

Pada masa pemerintahannya inilah agama islam mulai menyebar di Talaga yang dibawa oleh para santri dari Cirebon. Hal terpenting dari pemerintahannya adalah bahwa tahta pemerintahan waktu itu dipindahkan ke suatu daerah disebelah Utara Talaga bernama Walangsuji dekat kampung Buniasih.
Ratu Simbarkencana setelah wafat digantikan oleh puteranya Sunan Parung.

Pemerintahan Sunan Parung
Pemerintahan Sunan Parung tidak lama, hanya beberapa tahun saja.
Hal yang penting pada masa pemerintahannya adalah sudah adanya Perwakilan Pemerintahan yang disebut Dalem, antara lain ditempatkan di daerah Kulur, Sindangkasih, Jerokaso Maja.

Sunan Parung mempunyai puteri tunggal bernama Ratu Sunyalarang atau Ratu Parung.

Pemerintahan Ratu Sunyalarang
Karena berliau merupakan satu-satunya putri dari sunan Parung, maka selepas meninggalnya Sunan Parung, tampuk kerajaan pun berpindah ketangannya.
Sesaat setelah memegang tampuk kerajaan, beliau menikah dengan keturunan dari Pajajaran yang dikenal dengan nama Pucuk Umum.

Pada masa pemerintahannya Agama Islam sudah berkembang dengan pesat. Banyak rakyatnya yang memeluk aama tersebut hingga akhirnya baik Ratu Sunyalarang maupun Prabu Pucuk Umum memeluk Agama Islam. Agama Islam berpengaruh besar ke daerah-daerah kekuasaannya antara lain Maja, Rajagaluh dan Majalengka.

Prabu Pucuk Umum adalah Raja Talaga ke-2 yang memeluk Agama Islam. Hubungan pemerintahan Talaga dengan Cirebon maupun Kerajaan Pajajaran baik sekali. Sebagaimana diketahui Prabu Pucuk Umum adalah keturunan dari prabu Siliwangi karena dalam hal ini ayah beliau yang bernama Raden Munding Sari Ageng merupakan putera dari Prabu Siliwangi. Jadi pernikahan Prabu Pucuk Umum dengan Ratu Sunyalarang merupakan perkawinan keluarga dalam derajat ke-IV.
Hal terpenting pada masa pemerintahan Ratu Sunyalarang adalah Talaga menjadi pusat perdagangan di sebelah Selatan.

Pemerintahan Rangga Mantri atau Prabu Pucuk Umum
Dari pernikahan Raden Rangga Mantri dengan Ratu Parung (Ratu Sunyalarang) melahirkan 6 orang putera yaitu
Prabu Haurkuning
Sunan Wanaperih
Dalem Lumaju Agung
Dalem Panuntun
Dalem Panaekan

Akhir abad XV Masehi, penduduk Majalengka telah beragama Islam.
Beliau sebelum wafat telah menunjuk putera-puteranya untuk memerintah di daerah-daerah kekuasaannya, seperti halnya : Sunan Wanaperih memegang tampuk pemerintahan di Walagsuji;
Dalem Lumaju Agung di kawasan Maja;
Dalem Panuntun di Majalengka sedangkan putera pertamanya, Prabu Haurkuning, di Talaga yang selang kemudian di Ciamis. Kelak keturunan beliau banyak yang menjabat sebagai Bupati.
Sedangkan Dalem Panaekan dulunya dari Walangsuji kemudian berpindah-pindah menuju Riung Gunung, sukamenak, nunuk Cibodas dan Kulur.
Prabu Pucuk Umum dimakamkan di dekat Situ Sangiang Kecamatan Talaga.

Pemerintahan Sunan Wanaperih
Dimasa pemerintahan raja yang berputra 6 orang yaitu :

  1. Dalem Cageur

  2. Dalem Kulanata

  3. Apun Surawijaya atau Sunan Kidul

  4. Ratu Radeya

  5. Ratu Putri

  6. Dalem Wangsa Goparana


seluruh rakyat telah memeluk agama islam. Maka dari sinilah kerajaan yang semula dikenal luas sebagai kerajaan hindu pun berganti menjadi kerajaan islam.

Diceritakan bahwa Ratu Radeya menikah dengan Arya Sarngsingan sedangkan Ratu Putri menikah dengan putra Syech Abu Muchyi dari Pamijahan bernama Sayid Ibrahim Cipager.
Dalem Wangsa Goparana pindah ke Sagalaherang Cianjur, kelak keturunan beliau ada yang menjabat sebagai bupati seperti Bupati Wiratanudatar I di Cikundul. Sunan Wanaperih memerintah di Walangsuji, tetapi beliau digantikan oleh puteranya Apun Surawijaya, maka pusat pemerintahan kembali ke Talaga. Putera Apun Surawijaya bernama Pangeran Ciburuy atau disebut juga Sunan Ciburuy atau dikenal juga dengan sebutan Pangeran Surawijaya menikah dengan putri Cirebon bernma Ratu Raja Kertadiningrat saudara dari Panembahan Sultan Sepuh III Cirebon.

Pangeran Surawijaya dianungrahi 6 orang anak yaitu :

  1. Dipati Suwarga

  2. Mangunjaya

  3. Jaya Wirya

  4. Dipati Kusumayuda

  5. Mangun Nagara

  6. Ratu Tilarnagara


Ratu Tilarnagara menikah dengan Bupati Panjalu yang bernama Pangeran Arya Secanata yang masih keturunan Prabu Haur Kuning. Pengganti Pangeran Surawijaya ialah Dipati Suwarga menikah dengan Putri Nunuk dan berputera 2 orang, yaitu :

  1. Pangeran Dipati Wiranata

  2. Pangeran Secadilaga atau pangeran Raji


Pangeran Surawijaya wafat dan digantikan oleh Pangeran Dipati Wiranata dan setelah itu diteruskan oleh puteranya Pangeran Secanata.

Eyang Raga Sari yang menikah dengan Ratu Cirebon mengantikan Pangeran Secanata. Arya Secanata memerintah ± tahun 1962; pengaruh V.O.C. sudah terasa sekali. Hingga pada tahun-tahun tersebut pemerintahan di Talaga diharuskan pindah oleh V.O.C. ke Majalengka. Karena hal inilah terjadi penolakan sehingga terjadi perlawanan dari rakyat Talaga. Peninggalan masa tersebut masih terdapat di museum Talaga berupa pistol dan meriam. Kerajaan Hindu Terakhir di Majalengka skitar tahun 1480 (pertengahan abad XV) Mesehi, di Desa Sindangkasih 3 Km dari Kta Majalengka ke Selatan, bersemayam Ratu bernama Nyi Rambut Kasih keturunan Prabu Sliliwangi yang masih teguh memeluk Agama Hindu. Ratu masih bersaudara dengan Rarasantang, Kiansantang dan Walangsungsang, kesemuanya telah masuk Agama Islam. Adanya Ratu di daerah Majalengka adalah bermula untuk menemui saudaranya di daerah Talaga bernama Raden Munding Sariageng suami dari Ratu Mayang Karuna yang waktu itu memerintah di Talaga. Di perbatasan Majalengka - Talaga, Ratu mendengar bahwa di darah tersebut sudah masuk Islam. Sehingga mengurungkan maksudnya dan menetaplah Ratu tersebut di Sindangkasih, dengan daerahnya meliputi Sindangkasih, Kulur, Kawunghilir, Cieurih, Cicenang, Cigasong, Babakanjawa, Munjul dan Cijati. Pemerintahannya sangat baik terutama masalah pertanian yang beliau perhatikan dan juga pengairan dari Beledug-Cicurug-Munjul dibuatnya secara teratur. Kira-kira tahun 1485 putera Raden Rangga Mantri yang bernama Dalem Panungtung diperintahkan menjadi Dalem di Majalengka, yang mana membawa akibat pemerintahan Nyi Rambut Kasih terjepit oleh pengaruh Agama Islam.

Kemudian lagi pada tahun 1489 utusan Cirebon, Pangeran Muhammad dan istrinya Siti Armilah atau Gedeng Badori diperintahkan untuk mendatangi Nyi Rambut Kasih dengan maksud agar Ratu maupun Kerajaan Sindangkasih masuk Islam dan Kerajaan Sindangkasih masuk kawasan ke Kesultanan Cirebon. Nyi Rambut Kasih menolak sehingga timbul pertempuran antara pasukan Sindangkasih dengan pasukan Kesultanan Cirebon. Kerajaan Sindangkasih menyerah dan masuk Islam, sedangkan Nyi Rambut Kasih tetap memeluk agama Hindu. Mulai saat inilah ada Candra Sangkala Sindangkasih Sugih Mukti - tahun 1490.

PENGARUH SULTAN AGUNG MATARAM ABAD XVII
Tahun 1628 Tumenggung Bahureksa diperintahkan oleh Sultan Agung untuk menyerang Batavia, dengan bantuan pasukan-pasukan dari daerah-daerah manapun masalah logistiknya, juga pendirian loji-loji sebagai persediaan loistiknya di daerah Majalengka Utara, loji-loji banyak didirikan di Jatiwangi, Jatitujuh dan Ligung.
Mataram berpengaruh besar terhadap Majalengka, dimana banyak orang Mataram yang tidak sempat kembali ke tempat asalnya dan menetap di Majalengka.
Abad ke-XVII merupakan juga bagian dari pada peristiwa pertempuran Rangga Gempol yang berusaha membendung pasukan Mataram ke wilayah Priangan. Hal ini perlu diketahui bahwa wilayah Priangan akan diserahkan kepada V.O.C. (tahun 1677). Pasukan Rangga Gempol mundur ke Indramayu dan Majalengka.

Hubungan sejarah Sumedang yang menyatakan bahwa Geusan Ulun merupakan penurun para bupati Sumedang. Majalengka waktu itu masuk kekuasaan Sunan Girilaya, konon menyerahkan daerah Majalengka kepada Sunan tersebut sebagai pengganti Putri Harisbaya yang dibawa lari dari Keraton Cirebon ke Sumedang. Tahun 1684 Cirebon diserahkan Mataram kepada V.O.C. maka otomatis Majalengka masuk daerah V.O.C.

MASA PENJAJAHAN BELANDA DAN PENGHAPUSAN KEKUASAAN BUPATI ABAD XVIII
Tahun 1705, seluruh Jawa Barat masuk kekuasaan Hindia Belanda, pada tahun 1706 pemerintah kolonial menetapkan Pangeran Aria Cirebon sebagai seorang Gubernur untuk seluruh Priangan. Olehnya para bupati diberi wewenang untuk mengambil pajak dari rakyat, termasuk Majalengka bagi kepentingan upeti kepada pemerintah Belanda. Paksaan penanaman kopi di daerah Maja, Rajagaluh dan Lemahsugih mengakibatkan banyak rakyat yang jatuh kelaparan.

MAJALENGKA PADA ABAD XIX
Tidak saja tanam paksa kopi, Pemerintah Hindia Belanda pun memaksa rakyat untuk menanam lada, tebu dan tanaman lain yang laku di pasaran Eropa. Hal ini semakin menambah berat beban rakyat sehingga kesengsaraan dan kelaparan terjadi di mana-man.
Tahun 1805 terjadi pemberontakan oleh Bagus Rangin dari Bantarjati menentang Belanda. pertempuran pun pecah dengan sengitnya di daerah Pangumbahan. Pasukan Bagus Rangin yang berkekuatan ± 10.000 orang kalah dan terpaksa mengakui keunggulan Belanda. Tanggal 12 Juli 1812 Bagus Rangin menerima hukuman penggal kepala di kali Cimanuk dekat Karangsambung, sekarang beliau dinobatkan sebagai pahlawan. Waktu itu pada masa pemerintahan Gubernur Hindia Belanda Henrick Wiesel (1804-180 dan dilanjutkan oleh herman Willem Daendels (1808-1811) kemudian oleh Thomas ST Raffles (1811-1816).
Share this article :

2 comments:

Vega Karwanda said...

Sampurasun,

Manawi kersa urang ngaguar PANCAKAKI kanggo ngaraketkeun kawargian, silsilah Prabu Haur Kuning, kawargian sunda, dsb. di www.silsilah.sanghyangkunning.com

IBU ENDANG WULANDARI said...
This comment has been removed by a blog administrator.
 
Support : Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Portal Cirebon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger