Home » , » Makna yang Terkandung dalam Busana Adat Pernikahan Cirebon

Makna yang Terkandung dalam Busana Adat Pernikahan Cirebon

Written By Novita Anggraeni on Sunday, June 27, 2010 | 8:21 AM

Sejak setelah tahun 1985, busana pengantin yang lazim digunakan oleh dua keraton Cirebon yakni Kasepuhan dan Kanoman ditetapkan sebagai busana pengantin Cirebon maka busana pengantin kedua keraton tersebut kini resmi sebagai busana adat pengantin Cirebon. Karena berasal dari dua keraton maka busana pengantin Cirebon pun terbagi menjadi dua macam yakni busana pengantin kepangeranan yang berasal dari keraton Kasepuhan dan busana pengantin kebesaran yang berasal dari keraton Kanoman. Tapi, karena kedua keraton tersebut yang memang pada awalnya merupakan keraton yang sama maka tak heran kiranya jika kemudian aksesoris yang dipakai dalam busana pengantin kedua keraton itu memiliki kesamaan satu sama lain, pun begitu dengan makna-makna dari simbol yang terkandung di dalamnya.

Apa saja busana dan aksesoris yang digunakan pengantin sekaligus makna seperti apa yang terkandung di dalamnya, Portal Cirebon akan mencoba membahasnya pada postingan kali ini.

1. Busana yang dikenakan Pengantin Wanita
Busana yang dikenakan oleh pengantin wanita untuk menutup bagian atas tubuhnya digunakan kemben hijau yang berhiaskan manik-manik warna keemasan, dan untuk menutup bagian bawah sendiri digunakan kain berlancar dan dodot Cirebonan dengan warna dasar violet muda yang diberi motif dengan bentuk besar-besar di setiap pojokannya. Sedangkan untuk bagian dada hingga ke leher digunakan tratean, yaitu sebuah kain yang berbentuk melingkar yang fungsinya untuk menutup bagian dada, bahu hingga ke belikat. Untuk warna, motif dan bahan yang digunakan untuk teratean ini disesuaikan dengan motif, warna dan bahan yang digunakan untuk kemben agar terlihat senada dan tak terkesan tumpang tindih. Makna yang terkandung dalam teratean ini sendiri adalah berasal dari kata teratai yaitu sejenis bunga yang tumbuh di air dan Lumpur tapi memiliki bunga yang sedemikian indah. Jadi dengan kata lain, makna dari teratean ini adalah bahwa pengantin wanita ini ibarat bunga teratai yang sedang mekar, dan tak penting lagi seperti apa asal-usulnya, dari mana ia berasal, dan sebagainya.

Untuk aksesoris yang dipakai pengantin wanita sendiri adalah antara lain mahkota suri berhias permata asem jarot yang dikenakan di kepala yang telah bersanggul. Makna dan simbol yang terkandung dalam mahkota yang terpasang di kepala ini sendiri adalah bahwa mulai hari itu sang mempelai wanita merupakan seorang ratu, baik saat ini selaku pengantin maupun hingga nanti sebagai ratu bagi suami dan rumah tangganya. Disamping itu, dengan memakai mahkota seperti ratu itu di harapkan nantinya dalam mengarungi rumah tangga sang perempuan bersikap layaknya ratu yang tiap laku lampahnya menyorotkan sinar keagungan, menjaga kehormatan suaminya, dan sebagainya. Kemudian aksesoris lain yang dipakai oleh pengantin perempuan adalah untaian bunga melati yang menjuntai dari pelipis hingga ke dada, giwang yang dkenakan di telinga kiri dan kanan, cincin yang dikenakan di kedua jari manis, kalung tiga susun yang seolah-olah tertempel pada teratean untuk menghiasi leher dan dada, kelat bahu berbentuk naga yang dikenakan di bagian lengan dekat bahu yang bermakna bahwa sang pengantin telah siap secara fisik maupun mental untuk mengarungi bahtera rumah tangga, gelang kono yang dipakai di kedua pergelangan tangan yang dari bentuknya yang membulat memiliki makna atau simbol dari kebulatan tekad , sabuk yang melingkar di pinggang yang terbuat dari emas atau logam lain yang disepuh dengan warna keemasan dan yang terakhir adalah selop berhias manik-manik yang motif dan warnanya disesuaikan dengan warna kemben dan teratean pada bagian dada.

Jika kita amati, busana pengantin dan aksesoris yang dipakai oleh mempelai wanita ini didominasi oleh kedua jenis warna yakni hijau dan kuning. Ini jelas bukan sekedar warna tanpa makna. Warna hijau dalam tradisi Islam merupakan manifestasi dari kata Rahmaan dan kuning sendiri adalah simbol warna untuk kata rahiim. Jadi kedua warna tadi yaitu hijau dan kuning merupakan simbol dari kalimat basmalah yang memang merupakan kalimat yang selalu diucapkan umat Islam setiap akan melakukan sesuatu. Basmalah adalah gerbang dari segala perbuatan kedepan yang akan dilakukan. Untuk itu, dengan hijau dan kuning yang berarti mengucap basmalah, mengingatkan kepada sang pengantin bahwa perkawinan ini haruslah diawali dengan niat baik demi untuk menggapai ridho Allah.

2. Busana yang dikenakan Pengantin Pria
Pada bagian kepala pengantin pria dikenakan sebuah mahkota yang berbentuk bundar dan menyempit keatas dengan tinggi sekitar 25 cm dan terbuat dari bahan beludru berwarna hijau yang dilapisi dengan emas dan permata di sekeliling lingkarannya. Makna simbolik dari mahkota yang disebut sebagai mahkota Prabu Kresna ini adalah bahwa dengan memakai mahkota ini diharapkan nantinya sang pengantin pria kelak ketika memimpin rumah tangganya memiliki kcakapan seperti halnya prabu Kresna yang dikenal sangat adil, bijaksana, dan tangguh dalam melindungi keluarganya.

Untuk bagian atas tubuh pengantin pria dikenakan baju oblong berwarna putih atau gading. Baju ini berlengan pendek. Kemudian untuk menutupi bagian dada seperti hanya pada pengantin perempuan, dikenakanlah teratean dengan motif dan warna yang sama persis dengan yang dikenakan oleh pengantin perempuan yang memiliki makna bahwa keduanya memang telah sehati dan seuyunan dalam memutuskan menjadi suami istri. Satu-satunya yang membedakan teratean yang dikenakan oleh pengantin pria dengan pengantin perempuan ini hanyalah pada maalah bentuk saja, disesuaikan dengan lambang yoni dan lingga.

Untuk bagian bawah, pengantin pria mengenakan celana tiga perempat yang jatuh beberapa centi dibawah lutut. Celana yang pada bagian bawahnya terdapat sulaman benang emas ini terbuat dari beludru yang berwarna senada dengan baju yang dikenakan. Pengantin pria juga memakai kain dodot khas Cirebon dipinggangnya. Lalu di atas dodot batik itu dililitkan satu helai stagen cinde dan diperkuat dengan kamus epek timang yang juga terbuat dari beludru. Tak ketinggalan juga, selendang dan satu boro kewer yang menghiasi kedua pahanya dibagian depan agak menyamping. Dan yang terakhir adalah keris yang dikenakan di bagian pinggang dengan hiasan ombyok dari bunga mawar disela-sela gagangnya. Makna dari keris ini sendiri adalah untuk mengingatkan kepada mempelai pria bahwa dia harus melindungi keluarganya dari bahaya yang datang dari luar. Menjaga keselamatan keluarga merupakan kehormatan terbesar bagi laki-laki.

Untuk aksesoris lain yang dipakai hampir sama seperti yang dipakai oleh mempelai perempuan yakni cincin, kalung, kelat bahu berbentuk naga, gelang kono, dan sebagainya.
Share this article :

1 comments:

andini said...

waah keren, makna nya juga

 
Support : Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Portal Cirebon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger