Home » , , , , » Perkembangan Keraton Kasepuhan dari Waktu ke Waktu

Perkembangan Keraton Kasepuhan dari Waktu ke Waktu

Written By Novita Anggraeni on Tuesday, June 22, 2010 | 8:15 AM

Pada awal berdirinya, sekitar tahun 1452 Keraton Kasepuhan Cirebon hanyalah berisikan satu bangunan saja yakni bangunan Dalem Agung Pakungwati. Bangunan ini memiliki struktur yang khas dengan bangunan bagian bawah menggunakan susunan bata merah dengan ornament wadasan di setiap sisinya. Dan di bagian tengah bangunan adalah sebuah tempat terbuka tanpa dinding dengan pancang tiang kayu di tiap sisi dan bagian tengahnya. Tiang-tiang ini memiliki pondasi umpak berbentuk lesung tanpa ornamen dengan pangkal bagian bawah tiang diberi ukiran dengan motif rucuk bung. Untuk atap sendiri, bangunan ini berbentuk atap bertipe malang sumirang dengan genteng sebagai media penutupnya. Konsep bangunan terbuka dengan tanpa dinding sama sekali baik sebagai penyekat maupun penutup di tiap sisinya menggambarkan bahwa manusia adalah bagian dari alam maka dari itu sudah semestinya menyatu dengan alam sekitar. Tanpa sekat dan tanpa tanpa rekat.



Perkembangan berikutnya terjadi pada tahun 1500 M ditandai dengan dibangunnya Masjid Agung Sang Cipta Rasa dan kemudian disusul dengan bangunan lainnya yakni Siti Inggil, Museum Benda Kuno, Kuncung dan Kutagara Wadasan, Pungkuran, dan Pintu Buk Bacem. Bangunan-bangunan baru tersebut sangat khas dengan ornamen dan struktur bangunan yang mengadopsi dan akulturasi dari berbagai kebudayaan di berbagai tempat yang antara lain hal itu dapat dilihat dari ornamen yang menghiasi tembok bata merah dengan pasangan piring keramik dari China yang memagari kompleks Siti Inggil. Pada bagian depan pintu masuk tersebut terdapat candi Bentar yang khas dengan budaya Hindu Majapahit. Struktur bangunannya sendiri berupa tumpukan bata merah yang saling digesekan antara satu dan lainnya. Di Siti Inggil berdiri lima buah bangunan tanpa dinding beratap sirap uang berderet memanjang dari barat ke timur. Bangunan-bangunan tersebut adalah Mande Pandawa Lima, Mande Malang Semirang atau Mande Jajar, Mande Semar Tinandu, Mande Karesman, Mande Pengiring.

Struktur dan motif yang terdapat pada Mande Pandawa Lima sendiri adalah sebuah bangunan yang bagian bawahnya terdapat ornamen dengan motif ukiran menyerupai motif wadasan. Untuk dapat diketahui, motif wadasan sendiri sebenarnya adalah motif ukir yang berasal dari kebudayaan China yang kemudian diadopsi menjadi motif lokal yang lazim terdapat di dalam berbagai media seperti pada kain batik, lukisan kaca dan sebagainya. Untuk bagian tengah dari bangunan ini hanya berupa tiang yang berjumlah lima buah, melambangkan rukun Islam. Kemudian pada bagian atas, berupa atap joglo yang terbuat dari bahan sirap.

Untuk Mande Malang Semirang atau Mande Jajar sendiri tiang tengahnya yang (berukir) 6 buah melambangkan rukun iman, seluruhnya ada 20 tiang, ini melambangkan sifat 20 (sifat Ketuhanan). Berbeda dengan tiang-tiang kayu yang terdapat dalam dalem Agung Pakungwati, tiang-tiang yang terdapat dalam bangunan-bangunan yang ditambahkan di fase kedua perkembangan Keraton Kasepuhan ini memiliki banyak ornamen, baik pada bagian umpaknya (berbentuk lesung dengan ukiran flora berupa motif kangkungan dan motif keliangan yang berasal dari ragam hias Pasundan) maupun pada tiang bagian atasnya.

Untuk Mande Semar Tinandu, ciri-ciri yang menonjol dari bangunan ini adalah bagian bawah dari bangunan ini terbuat dari bata merah khas kebudayaan Hindu Majapahit dengan ornamen menyerupai motif wadasan. Untuk bagian tengah, bangunan ini tetap seperti bangunan-bangunan sebelumnya yaitu dibiarkan terbuka dengan dua buah tiang sebagai pancangnya. Dua tiang ini sendiri adalah melambangkan dua kalimat syahadat dengan atap yang bergaya joglo dengan sirap sebagai penutupnya.

Pada Mande Karesman, pada bagian bawah bangunan ini tersusun dari bahan bata merah dengan ornamen bergaya motif wadasan dengan bagian tengah terdapat delapan tiang dengan pondasi umpak tanpa ornamen yang berjumlah delapan buah. Dan yang terakhir Mande pengiring adalah bagian bawah bangunan yang terbuat dari susunan bata merah dengan ornamen menyerupai motif wadasan. Sedangkan bagian tengah hanya berupa tiang yang berjumlah delapan buah dan bagian atas berupa atap bertumpuk bertipe malang semirang yang terbuat dari bahan sirap.

Kemudian adalah bangunan Museum Benda Kuno yang memiliki karakteristik yang berbeda dari bangunan-bangunan lainnya yaitu pada bangunan ini sudah menggunakan tembok bata sampai ke atas bangunannya dengan ornamen yang lebih sederhana. Pintu buk bacem dibingkai oleh gapura yang tampak seperti mengadopsi kebudayaan Gujarat yaitu berupa lekungan (vault), namun juga terdapat piring / cawan yang ditempelkan sebagai ornamen, ,dimana piring / cawan tersebut adalah berasal dari kebudayaan Cina. Bangunan pungkuran ini juga terlihat sebagai hasil akulturasi dari dua kebudayaan yang berbeda. Dimana pendopo dengan atap limasan memiliki tiang kolom bergaya Eropa.

Pada tahun 1529 terjadi pembangunan tahap ketiga yang ditambahkan dalam komplek keraton yaitu antara lain dengan dibangunnya Bale Kambang, Dalem Arum Kedalem, Bangsal Agung, Bangunan Kaputren beserta Paseban Kaputren, Bangsal Pringgadani, dan Jinem Pangrawit, serta Taman Bunderan Dewandaru.

Pada tahun 1678, terjadi lagi pertambahan bangunan tahap empat dengan ditandainya tambahan bangunan berupa jinem pangrawit. Jinem Pangrawit adalah berupa pendopo yang merupakan bangunan tradisional Jawa namun memiliki elemen kolom yang merupakan hasil akulturasi dari kebudayaan Eropa. Tahap keempat perkembangan Keraton Kasepuhan, pada tahun 1678 terdapat penambahan berupa jinem pangrawit.

Pada tahun 1682, perkembangan tahap kelima, terdapat penambahan berupa bangsal prabayaksa. Bangsal prabayaksa memiliki ornamen dinding berupa keramik dari Eropa yang sejak pemasangannya hingga saat ini belum pernah mengalami perbaikan. Setiap keramik tersebut menggambarkan/ menceritakan kisah-kisah yang terdapat didalam Injil. Keramik-keramik tersebut membingkai relief bergambar bunga lotus dan burung kakak tua, dimana relief tersebut berasal dari kebudayaan Budha. Pada tahun 1845, perkembangan tahap keenam, terdapat penambahan berupa Gajah Nguling yang merupakan jejak nyata dari pengaruh budaya Eropa terhadap keraton Kasepuhan.

Keenam fase perkembangan Keraton Kasepuhan ini merupakan fase di mana saat-saat terpenting dari Keraton Kasepuhan itu sendiri selaku salah satu kerajaan Islam penting di Pulau Jawa setelah habisnya era Majapahit dan Kerajan Padjajaran.
Share this article :

1 comments:

okaasan said...

Mohon ijin menyadur artikel ini untuk keperluan pengumpulan data "Cirebon Heritage" ya pak... terimakasih

 
Support : Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Portal Cirebon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger