Home » , , , , , » Iwak Bekasem; Masakan Khas Panjang Jimat

Iwak Bekasem; Masakan Khas Panjang Jimat

Written By Novita Anggraeni on Sunday, November 15, 2015 | 10:04 AM

Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW di keraton Kesepuhan Cirebon yang kerap disebut dengan istilah Muludan, ternyata tak hanya menarik dari sisi ritualnya saja, tapi juga dari segi kulinernya. Ya, hidangan yang menyertai dalam puncak ritual muludan, yakni pada acara panjang jimat, salah satunya dan selalu ada adalah hidangan iwak bekasem.

Kenapa, sajian hidangan iwak bekasem ini terbilang istimewa adalah karena hidangan yang satu ini memang hanya disajikan pada saat upacara penting di Keraton Kasepuhan Cirebon seperti halnya pada  upacara ritual Panjang Jimat. Tidak hanya itu, pembuatannya pun tidak oleh sembarang orang dan memakan proses yang sedemikian panjang hingga satu bulan sebelum akhirnya hidangan iwak bekasem ini disajikan.

Khusus untuk sajian iwak bekasem pada upacara panjang jimat, persiapan pembuatan iwak bekasem sudah dimulai sejak tanggal 5 Shafar dalam penanggalan Hijriah. Proses pembuatan iwak bekasem ini memakan waktu selama satu bulan penuh dan baru selesai pada tanggal 5 Rabiulawal, untuk selanjutnya, iwak bekasem akan disajikan pada malam puncak peringatan muludan atau biasa disebut panjang jimat yakni pada 12 Rabiulawal.

Resep pembuatan masakan iwak bekasem ini sendiri sudah ada turun temurun di Keraton Kasepuhan, tepatnya sejak zaman Syech Syarif Hidayatullah atau yang dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Dan seperti namanya, iwak bekasem berbahan utama ikan (iwak = ikan dalam bahasa Cirebon) yakni ikan kakap dan tenggiri. Cara pembuatannya sendiri adalah pertama-tama ikan dipotong-potong kecil dan kemudian dicuci bersih. Setelah ikan bersih, barulah kemudian ikan direndam dengan aneka bumbu rempah yang diantaranya bawang merah, bawang putih, kunyit, merica, ketumbar, kemiri, gula merah dan asam jawa atau dalam bahasa Cirebon asem kawak.  Asem kawak inilah yang akan merubah warna ikan menjadi agak kemerahan. Selain untuk memerahkan daging ikan, asem kawak ini pun berfungsi sebagai pengawet alami. Karenanya, tak dibutuhkan pengawet kimia untuk mengawetkan ikan. Penggunaan asem kawak itu juga yang menjadi ciri khas yang membedakan bekasem dengan masakan ikan lainnya.

Selanjutnya, iwak bekasem yang sudah direndam bersama rempah-rempah tadi akan diperam selama sebulan penuh di dalam gentong atau guci kuno peninggalan istri Sunan Gunung Jati yakni Putri Ong Tin Nio. Selama pemeraman ini, guci harus tertutup sempurna untuk memastikan tak ada udara yang masuk. Selain ditutup dengan menggunakan penutup gentong, bagian atas gentong pun ditutup dengan kertas semen yang diikat kuat dengan tali. Tak cukup sampai disitu, bagian atas kertas semen pun ditempeli dengan menggunakan abu dari bakaran kayu. Adapun fungsi dari abu bakaran kayu ini sendiri adalah untuk lebih memastikan bahwa tak ada pori-pori sekecil apapun yang terbuka dan bisa menyebabkan udara dari luar masuk ke dalam guci. 

Setelah genap satu bulan, atau tepatnya pada 5 Rabiulawal (5 Mulud dalam penanggalan Jawa), gentong tersebut dibuka. Ikan-ikan yang ada di dalam gentong kemudian dibersihkan dengan menggunakan air bersih. Namun, proses pembersihannya pun tidak boleh dilakukan oleh sembaran orang. Pembersihan harus dilakukan oleh ibu-ibu dari Mesjid Agung yang dipimpin langsung sang permaisuri. 

Setelah dicuci bersih menggunakan air, iwak bekasem kemudian ditiriskan di atas tampah yang sudah diberi tangkai padi. Selanjutnya, sekitar tiga hari kemudian, ikan tersebut baru dimasak dan dijadikan lauk pauk nasi untuk panjang jimat pada malam puncak peringatan lahirnya Nabi Muhammad SAW. 


Share this article :

1 comments:

surya maulana said...

kalau sekarang sudah masuk bulan rajab :)

 
Support : Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Portal Cirebon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger