Home » , , , , » Tradisi Sedekah Bumi di Cirebon

Tradisi Sedekah Bumi di Cirebon

Written By Novita Anggraeni on Wednesday, January 5, 2011 | 8:35 AM


Seperti halnya ritual-ritual zaman dulu yang selalu berkait erat dengan siklus hidup dan keseharian yang mereka jalani seperti upacara adat menyangkut kelahiran, perkawinan, kematian dan mata pencaharian. Maka, di Cirebon pun ada satu upacara adat yang berkait dengan mata pencaharian mereka yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Untuk para nelayan, mereka rutin menggelar upacara sekaligus pesta rakyat yang disebut nadran, larungan dan sebagainya. Sedangkan bagi para petani mereka biasanya menggelar berbagai upacara dan ritual yang berhubungan dengan tanah yang salah satunya akan Portal Cirebon bahas kali ini yakni sedekah bumi.


Upacara adat sedekah bumi ini berkait erat dengan kepercayaan orang-orang zaman dulu akan adanya dewa-dewa dan mereka percaya bahwa pada tiap-tiap segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup manusia dikuasai dan dijaga oleh dewa-dewa. Dengan keyakinan atas adanya dewa tersebut ditunjukkan dengan penyiapan sesaji di tempat-tempat yang mereka percaya. Dengan begitu mereka berharap terhindar dari malapetaka alam yang murka dan mendapatkan kemudahan mencapai hasil-hasil usahanya.

Kemudian Islam masuk ke wilayah Cirebon. Tapi meskipun tradisi sebelum masuknya Islam ini adalah sebuah ritual untuk menyembah dewa-dewa, Islam tidak serta merta menghapuskan ritual ini dari tengah-tengah masyarakat Cirebon, dan malahan memanfaatkan kearifan lokal ini sebagai media dakwa yang efektif. Pendekatan budaya seperti inilah yang pada kenyataannya memang membuat Islam lebih mudah diterima di kalangan masyarakat Cirebon. Karena menyembah kepada selain Allah merupakan hal yang diharamkan oleh agama Islam, maka sesembahan kepada dewa pada masa pra-Islam tidak dibuang sama sekali, tetapi diubah substansinya. Dalam usaha-usaha mengalihkan keparcayaan itulah terbentuk upacara baru, sedekah bumi. Upacara baru ini pertama kali dilaksanakan pada pemerintahan Kanjeng Susuhan Syekh Syarif Hidayatullah (1482-1568 M), tempatnya di Puser Bumi.

Puser Bumi sendiri merupakan sebutan untuk pusat kegiatan atau pusat pemerintahan Wali Songo. Konon, setelah Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M, pusat pemerintahan atau Puser Bumi yang semula berada di Ampel oleh anggota Wali Songo yang tersisa sepakat dipindahkan ke Cirebon yang tepatnya di Gunung Sembung. Gunung Sembung ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan Astana Gunung Jati.

Tradisi Sedekah Bumi ini pada perjalanannya kemudian dilaksanakan pada bulan ke empat tiap tahunnya mengikuti siklus panen padi di setiap desa yang masuk ke dalam wilayah Cirebon. Pada saat ini yang masih kuat memegang tradisi Sedekah Bumi adalah Desa Astana Gunung Jati. Pelaksananya adalah Ki Penghulu serta Ki Jeneng Astana Gunung Jati berikut para kraman. Pelaksanaannya dimulai dengan Buka Balong dalem yaitu mengambil ikan dari balong milik keraton di beberapa daerah (masih ada di desa Pegagan) oleh Ki Penghulu bersama Ki Jeneng atas restu Sinuhun. Selanjutnya Ki Penghulu bersama Ki Jeneng Ngaturi Pasamon (mengadakan pertemuan) para Prenata dan para pemuka adat lainnya, dalam Pasamon ditetapkan hari pelaksanaan sedekah bumi.

Setelah hari H untuk menggelar upacara Sedekah Bumi itu resmi ditetapkan, maka kemudian disebarkan kepada seluruh penduduk bahwa pada hari yang telah ditentukan itu akan diadakan upacara adat Sedekah Bumi. Melalui para pemuka adat penduduk mengirimkan "Gelondong Pengareng-areng". Gelondong Pengareng-areng adalah penyerahan secara sukarela, sebagai rasa syukur atas keberhasilan yang telah diusahakannya. Biasanya berupa hasil bumi seperti Sura Kapendem (hasil tanaman yang terpendam di tanah seperti ubi kayu, kembili, kentang, dsb). Sura gumantung, yaitu hasil tanaman di atas tanah seperti buah-buahan, sayur mayur, dsb. Hasil ternak seperti Ayam, Itik, Kambing, Kerbau, Sapi, dsb. Juga bagi mereka yang yang berusaha sebagai nelayan, mengirimkan hasil tangkapannya dari laut sebagai rasa syukur dan berbakti kepada kanjeng sinuhun. Penyerahan-penyerahan itu terjadi bukan karena paksaan atau peraturan tertentu, tetapi karena kesadaran penduduk itu sendiri dan kemudian dijadikan hukum adat yang aturan-aturan tidak tertulis.

Upacara adat Sedekah Bumi sendiri dibuka dengan acara Srakalan, pembacaan kidung yang dilakukan oleh pemuka adat. Kemudian acara berikutnya adalah ritual pencungkilan tanah sebagai simbol bahwa mereka mencintai tanah sebagai tempat penghidupan sekaligus juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada sang pencipta yang telah menganugerahi tanah yang subur. Dan menjelang siang, acara dilanjutkan dengan arak-arakan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Araka-arakan ini sendiri berfungsi sebagai ajang pesta rakyat di mana segala lapisan masyarakat ikut berpartisipasi dengan berbagai pertunjukan kesenian yang beragam. Dan seperti lazimnya sebuah pesta rakyat, maka segala jenis pertunjukan kesenian ditampilkan di sini oleh rakyat dan untuk rakyat. Kemudian pada pagi berikutnya barulah dilaksanakan upacara ruwatan sebagai acara inti sekaligus juga sebagai penutup dari seluruh rangkaian upacara Sedekah Bumi.

_______________
Sumber gambar diambil dari: blog halimisemm-carubannagari
Share this article :

0 comments:

 
Support : Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Portal Cirebon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger