Home » , , , , » Sampyong; Sebuah Pertarungan Antar Jawara

Sampyong; Sebuah Pertarungan Antar Jawara

Written By Novita Anggraeni on Monday, December 26, 2011 | 6:34 PM

Di penghujung tahun 60-an, di daerah Majalengka, tepatnya di Cibodas ada sebuah permainan atau olahraga ketangkasan yang menuntut pesertanya untuk memiliki nyali yang besar. Jika Anda takut dengan rasa sakit, merah-merah di kulit penuh bilur, dan bahkan kulit lebam kebiruan maka sepertinya permainan ini tidak cocok dengan Anda. Ujungan, begitu permainan ini kerap disebut.

Ujungan adalah permainan adu ketangkasan antara dua orang yang saling berhadapan satu sama lain dengan masing-masing peserta membawa tongkat pemukul dari rotan bulat berukuran 60 cm, dan tutup kepala (disebut balakutak) yang terbuat dari kain yang dilapisi dengan bahan-bahan empuk untuk melindungi kepala dari pukulan lawan.

Pada saat itu tidak ada aturan baku untuk permainan ujungan ini. Kedua peserta diperbolehkan untuk memukul bagian mana saja dan sekuat yang dia mampu selama lawan yang dihadapi belum memperlihatkan tanda-tanda menyerah. Hebatnya permainan ini adalah permainan ini sama sekali tanpa menggunakan teknik tangkisan seperti halnya seni bela diri pada umumnya. Jadi, yang diuji dalam permainan ini adalah tentang seberapa kuat Anda memukul dan seberapa kuat pula Anda menahan rasa sakit akibat pukulan. Permainan ini sendiri dipimpin oleh seorang wasit yang disebut dengan melendang.

Meski permainan ini terkesan begitu brutal, tapi ada juga sisi manis dari permainan ini yakni adanya seperangkat gamelan pencak silat yang ditabuh untuk mengiringi kedua 'jawara' bertarung. Pun juga dengan adegan ibing yang dibawakan oleh kedua jawara yang akan bertanding sesaat setelah mereka masuk gelanggang. Sebelum melakukan pukulan, kedua pemain melakukan mincid pencak silat yang manis. Pukulan dilakukan ditandai seruan sang malandang: "Briuk" yang disusul kemudian dengan pukulan ke arah yang diinginkan.

Berubah Menjadi Sampyong
Seiring dengan perkembangan zaman dan mungkin karena makin berkurangnya orang-orang bernyali yang sanggup menahan panas akibat pukulan, pada akhirnya permainan ujungan pun direvisi oleh beberapa tokoh ujungan yang berpengaruh pada saat itu dengan membuat peraturan-peraturan yang menjadikan permainan ini jadi lebih manusiawi. Dan setelah bermusyawarah dan juga berdasarkan pengalaman-pengalaman di lapangan maka disepakatilah untuk membuat permainan ini menjadi lebih sederhana dengan bersandar pada 3 butir peraturan permainan, yakni:


  1. Seorang peserta hanya diperkenankan memukul sebanyak tiga kali pukulan bergantian masing-masing dalam satu kesempatan.

  2. Sasaran pukulan yang diperbolehkan adalah di kaki pada bagian belakang betis.

  3. Pemain tidak bisa hanya berdasarkan pada keberanian satu sama lain, tetapi dikelompokkan berdasarkan umur dan gender (jenis kelamin). Jadi, meskipun satu sama lain menyatakan berani untuk bertarung, tapi jika umur mereka tak sepadan atau jenis kelamin mereka berbeda maka pertandingan itu tak bisa dilakukan.


Seiring dengan berlakunya peraturan yang baru ini, lambat laun kata ujungan pun mulai ditinggalkan, dan berganti nama menjadi sampyong. Nama sampyong sendiri konon adalah celetukan tidak sengaja dari seorang penonton keturunan Tionghoa, yang menyebut ini sebagai sampyong yang berasal dari kosakata dalam bahasa China: sam artinya tiga dan poyong yang berarti pukulan. Kiranya ia tertarik pada jumlah pukulan pada permainan itu hingga kemudian terucap kata Sampyong yang kemudian melekat menjadi sebutan permaianan sampai sekarang.

_____
Gambar diambil dari sini
Share this article :

0 comments:

 
Support : Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Portal Cirebon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger