Home » , , » Bentuk Penghargaan Warga Cirebon Untuk Seniman Mereka

Bentuk Penghargaan Warga Cirebon Untuk Seniman Mereka

Written By Novita Anggraeni on Thursday, May 13, 2010 | 5:53 AM

H. Abdul Adjib 

Dulu, pada dasawarsa 80-an hingga 90-an ketika ada seniman-seniman besar sedang berpentas di sebuah kampung dan kebetulan di kampung tersebut ada warga yang melahirkan bayi maka ada semacam tradisi untuk meminta sang seniman tersebut memberikan nama pada sang bayi sekaligus mengangkatnya sebagai anak. Anak dalang begitulah sebutannya. Salah satu photo yang berhasil di dapat oleh Portal Cirebon dari salah seorang warga di Desa Cidenok, Majalengka sekaligus mewawancarainya didapat kesimpulan bahwa yang mendorong warga pada saat itu adalah karena menjadi anak angkat (anak akon-akon) sang dalang (seniman) besar merupakan suatu kebanggaan tersendiri.




Pada masa itu, profesi seniman di mata masyarakat merupakan suatu profesi yang cukup bermartabat, "Dudu pegaweane wong biasa," begitu kata sang nara sumber. Meski seniman panggung bukan merupakan jenis profesi yang berpenghasilan besar namun ada semacam rasa pekewuh dan hormat pada profesi ini karena pekerjaan sang seniman merupakan pekerjaan yang dianggap mulia yakni menghibur orang. Tidak semua orang memiliki talenta seperti yang dimiliki sang dalang.

Makanya, seperti yang terlihat dalam photo, meski saat itu belum ada penerangan listrik di kampung tersebut sang nenek tetap memaksakan diri menggendong cucunya yang belum juga berumur satu hari itu ke panggung demi mendapat hadiah nama dari sang dalang. Sebuah penghormatan yang begitu besar dari warga untuk sang seniman.

Di Desa Cidenok sendiri dari penelusuran Portal Cirebon menemukan tak kurang dari 4 orang yang menjadi anak angkat sekaligus memiliki nama pemberian dari sang dalang. 2 orang mendapat nama dari pemimpin Putra sangkala yakni Abdul Adjib dan dua lainnya masing-masing dari pemimpin Sandiwara Indra Putra dan Dalang Wayang Kulit terkenal pada masa itu. "Tiap dalang sing ngaku anak ning kula ditanggap ning desa kien lan tangga desa biasane kula dikabari ambir bisa teka. Baka wis ketemu ya biasane dijak ngobrol. Wis kawin durung, due anak pira. Pokoke ya kaya anak ketemu bari bapane bae." ("Tiap dalang yang mengangkat anak sama saya berpentas di desa ini ataupun di desa tetangga biasanya saya akan dikabari agar bisa datang. ketika ketemu ya ngobrol macam-macam. Sudah kawin belum, punya anak berapa. Pokoknya ya seperti bertemunya orang tua dengan anaknya," -pen) Empat orang dalam satu desa untuk masa itu ketika tidak semua orang mampu mendatangkan seniman besar (nanggap, begitulah istilahnya) pun di tambah lagi tidak setiap sang seniman besar mentas di suatu kampung ada ibu-ibu yang melahirkan. Maka empat orang anak dalang dalam satu kampung jelas bukanlah jumlah yang sedikit.

Jadi, meski prosesi pemberian nama dan pengangkatan anak itu terbilang sederhana dan mendadak tapi bukan berarti kemudian setelahnya dilupakan begitu saja. Hubungan ayah - anak itu tetap terjalin meski tentu tak seperti orang tua dengan anak kandung sendiri.

Sayangnya, seiring makin majunya tatanan kehidupan manusia, tradisi itu kini hampir ditinggalkan kalau tidak dibilang hilang sama sekali. Mungkin karena sekarang di zaman yang kian berderap mengejar keduniawian orang lebih resfect pada profesi yang lebih mudah mendatangkan uang seperti Dokter, insinyur dan sebagainya. Dan imbasnya profesi dalang panggung pun tak lagi dipandang sebagai pekerjaan yang menjanjikan masa depan. Hanya dibutuhkan sebagai pemeriah hajatan. Dampak langsung ari semua itu tentu adalah tak lagi ada seorang nenek yang repot-repot membawa cucu tercintanya ke atas panggung demi sepotong nama dan pengakuan dari sang dalang panggung. Sangat disayangkan memang. Duh, dalang...... nasibmu kini.
Share this article :
 
Support : Budaya Nusantara | Kotak Bumbu | Kunci Finansial
Copyright © 2013. Portal Cirebon - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger